3 Tahap Perkembangan Emosi Anak

perkembangan emosi anak

solusisehatku.com

Emosi, siapa sih yang paham betul tentang emosi? Perkembangan manusia serba dinamis menjadikan psikologis tidak kehabisan bahan penelitian. Di usia belia, perkembangan emosi anak saja sudah mulai sulit dicerna. Butuh waktu untuk memahami apa yang dirasakan anak terlebih keterbatasan kosa kata anak membuat analisa sedikit lebih rumit lagi.

Sama hal dengan berbagai aspek hidup, terdapat sebab dan akibat. Tanpa adanya sebab maka akibat tidak dapat muncul. Ilmuan psikolog bernama dokter Erikson, menghabiskan waktu guna menemukan pola pertama yang menjadi fondasi karakter seorang anak. Menurut beliau, setidaknya ada 3 tahap perkembangan emosi anak terlepas dari kelainan zat kimia dalam otak anak yang bisa berujung penyakit mental.

Pepatah mengatakan, pendidikan anak dimulai dari lingkungannya, dan hal ini tidak salah. Lingkungan sendiri terbagi menjadi 3 yakni orang tua, keluarga, baru eksternal. Kenapa orang tua masuk dalam lingkup pertama ? secara garis besar, masa kecil anak seharusnya dihabiskan bersama orang tua, menjadikan mereka orang pertama yang paling memahami anak dan bertanggung jawab atas perilakunya.

Rasa ingin tahu yang terpendam dalam diri manusia harus tertanam dalam diri orang tua. Munculnya penasaran biasanya dimulai dari kepedulian. Bila ayah bunda membaca artikel ini berbasis rasa sayang pada anak maka selamat, tindakan ayah bunda sudah tepat. Langsung saja, ini dia tahap perkembangan si kecil :

1. Rasa percaya

Luka bisa beragam bentuk. Paling mudah dipahami dan dilihat yakni luka fisik. Entah pukulan, tendangan, jatuh dari ketinggian, atau tergores benda tajam bisa berakibat luka fisik. Tidak sulit memahami maupun menggambarkan rasa sakit tersebut, toh biologi bisa membuktikkan sumber rasa sakit dan cara mengatasinya.

Anak – anak belum mampu memahami perasaan kompleks. Tantangan awal dalam hidupnya berupa luka. Sangat mudah menggambarkan apa yang dia rasakan jika sekedar memar dan benjol, tinggal tunjuk semua orang akan paham. Pada kasus biasa, luka hanya mengakibatkan rasa kapok melakukan sesuatu, tapi ada juga dampak luka lain.

Orang dewasa yang paling dekat anak menjadi satu – satunya manusia yang dipercaya untuk pertama kali. Rasa aman dari perlindungan yang diberikan menjadikan hidup anak lebih optimis. Tanpa ada tantangan hidup sekalipun, meninggalkan rahim ibu berarti meninggalkan ‘rumah aman’, wajar, rasa takut menghantui anak – anak.

Setiap kali anak disakiti entah karena dianggap berbuat kesalahan atau tidak kepercayaan surut perlahan. Orang tua yang terlalu keras menghukum anak secara fisik di usianya yang masih dua tahun hanya menimbulkan trauma. Kepercayaan terhadap orang dewasa akan hilang dengan sendirinya dan berubah menjadi dendam. Banyak kasus, penjahat moral diakibatkan pelecehan maupun hukuman fisik semasa kecil.

Usia dua tahun, anak masih rentan dengan beragam pengalaman. Orang tua seharusnya membimbing dengan tutur kata lembut. Disiplin dengan hukuman fisik baru dimulai ketika usia anak lebih dari 2 sampai 3 tahun.

2. Percaya diri

Dari lahir hingga umur tiga tahun keatas hidup anak selalu dilindungi. Awalnya memang perlindungan orang tua sangat diperlukan. Kala bayi, dirinya tidak mampu melihat atau mendengar jelas. Fase hidup pertama bayi bak kotak sempit nan gelap dimana tak ada suara dan tak ada bantuan, hingga kehangatan tangan ayah bunda memberi ketenangan di antara keheningan yang menyeliputi anak.

Usia empat tahun, mata bayi sudah terbuka lebar. Tulang dan otot semakin kuat, sehingga anak sudah mampu berlari, dan bergerak lebih leluasa. Bantuan ayah dan ibu secara umum tidak dibutuhkan, toh sekarang anak bisa mengambil apa saja dengan mandiri. Rasa percaya diri dalam hati tumbuh semakin besar seolah ditinggal hidup sendiri anak akan mampu.

Kesombongan sudah menjadi sifat dasar manusia. Ilmu yang hanya setetes bak selaut penuh sama halnya dengan perkembangan emosi yang satu ini. Perasaan anak diselimuti keyakinan segala langkah dan keputusan bisa diambil sendiri. Ayah dan bunda musti siap hati untuk ditolak dan diminta menjauh, anak ingin sendiri.

Pencegahan banyak dilakukan guna menjauhkan anak dari marabahaya. Tak jarang orang tua mengajak anak mundur dari kegiatan kecil seperti bermain mengambil sendok sendiri. Ketika anak terlalu sering dibantu dengan ditambah doktrin kalau mau apa – apa harus ada mama papa, bisa – bisa karakternya tidak berkembang.

3. Komunikasi

Ulang tahun kelima seolah menandakan keberhasilan orang tua yang pertama. Ciri fisik yang terlihat seputar kosa kata yang makin tersusun, dan kemampuan membaca emosi orang lain. Biasanya anak akan mulai berceloteh ria dan berharap didengarkan dengan seksama, atau kalau bisa ditanggapi dengan antusias tinggi.

Sebagai mahluk sosial, tentu anak akan senang berkelompok. Membawa anak ke PAUD, play ground, TK, aktivitas keagamaan di komplek akan sangat membantu. Dengan bergabung suatu komunitas, anak akan mengenal mahluk lain dengan pola pikir yang sama dan kemampuan setara. Batu lonjakan sosial anak dimulai ketika dirinya mulai berkomunikasi dengan anak sebayanya.

Melihat perkumpulan anak – anak memang kesannya lucu. Kalau orang tua perhatikan lebih dekat, karakter manusia secara keseluruhan tercermin secara sederhana. Dominasi dari satu anak, penyelesaian masalah berupa musyawarah, hingga pertentangan dan kekompakan akan terlihat jelas.

Secara emosi anak semakin matang dan ingin mengenal lebih lanjut bagaimana teman baru akan membawa nasibnya kelak. Menyediakan ruang bermain bersama akan sangat membantu perkembangan emosi anak untuk masa depannya.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *