8 Kesalahan Cara Menggendong Bayi yang Ancam Jiwa Buah Hati

perkembangan bayi 3 bulan

www.ibudanbalita.com

Cara menggendong bayi kerap dianggap sesuatu yang natural. Apalagi, era kini sudah ditemukan beragam alat bantu menggendong si kecil, mulai dari tradisional seperti seutas kain, atau modern yakni penopang bayi bentuk tas. Membawa buah hati ayah bunda kesannya gampang, walau sebetulnya tidak selalu demikian.

Simplicity does not precede complexity, but follows it”

Kutipan ilmuan Alan Relis tersebut dapat dimaknai bahwa segala sesuatu yang mudah menyimpan kesulitan di dalamnya. Hanya karena terkesan ‘gampang’ tidak berarti terhindar seratus persen dari resiko. Sama dengan membawa bayi di tangan, ada beberapa kesalahan menggendong bayi yang tak orang tua sadari, sekalipun memakai alat gendong bayi. Apa sajakah?

  1. Salah ukuran
    Ahli matematika sengaja menemukan rumus perhitungan yang memudahkan kehidupan manusia. Termasuk di dalamnya, perhitungan ukuran tubuh. Perusahaan pakaian, makanan, hingga alat gendong sekalipun memiliki ukuran atau takaran guna menghindari kekecewaan pelanggan.

    Ukuran alat gendong bayi tidak all size alias satu ukuran untuk semua jama’ah. Setiap bayi punya ukuran yang berbeda-beda. Bahkan, di ranah online, ‘pedagang’ sengaja mencantumkan ukuran alat gendongnya, bahkan kain bedong seharusnya diukur dengan baik. Mengapa?

Sama halnya dengan orang dewasa bayi juga punya ukuran. Alat gendong yang terlalu longgar akan beresiko kalau sampai si kecil terpeleset dan jatuh. Terlalu erat, juga kurang baik, badan si kecil tertekan, hingga pada satu titik bayi tidak akan mampu tumbuh dengan baik. Logika yang sama berlaku pada tradisi Cina kuno yakni memakaikan sepatu terlalu kecil untuk anak perempuan dengan harapan kakinya akan mengecil secara alami.

  1. Asal pakai
    Produk selalu datang bersamaan dengan petunjuk pemakaian. Namun, sebagian besar konsumen malas baca dan biarkan dirinya eksperimen sendiri. Padahal, seandainya mau meluangkan waktu belajar, memakai alat gendong bayi tak akan perlu ‘drama’ salah pakai atau kurang pas.

    Kain bedong sebetulnya jauh lebih advance atau rumit dibanding alat gendong modern. Biasanya pula, tak ada buku petunjuk. Bukan berarti orang tua lantas boleh kira-kira. Selalu minta petunjuk pada ayah bunda yang lebih pengalaman gendong bayi. Minta pula tips dan trik menggendong yang baik dan benar.

  2. Posisi si kecil kerendahan
    Idealnya, bayi berada satu garis dengan punggung orang tua. Gampangnya kepala bayi selalu mencuat sedikit dibanding badan yang dibalut kain gendong. Nyatanya, tidak selalu demikian, lho.

    Kalau suka perhatian, fenomena bayi digendong terlalu rendah, hingga kepalanya terlalu rendah dalam kain bedong banyak dijumpai. Selain si kecil beresiko jatuh, dirinya akan kesulitan bernafas karena terhimpit kain dan badan penggendong. Tiap kali mau mulai aktivitas, selalu pastikan bayi dalam posisi ‘sempurna’.

  3. Alat gendong bukan tiket kebebasan
    Orang tua, terutama ayah, sering terjangkit kasus terlalu percaya diri dan menyerahkan segalanya pada alat gendong. Anggapan bahwa alat gendong sudah pasti mampu menopang bayi tanpa perlu diawasi salah besar.

    Alat gendong diciptakan untuk mengurangi ribetnya menggendong bayi manual. Kadang, bayi bergerak, hingga ketiduran. Inilah mengapa, pelaku gendong harus siap siaga jika memang mengasuh bayi sambil bekerja, atau aktivitas lainnya. Tidak ada alasan ‘tidak tahu’ kalau sampai ada yang terjadi pada si kecil.

  4. Menutup bayi keseluruhan
    Lucu tapi nyata, ada beberapa bunda yang menganggap menutup buah hati menyeluruh dengan kain adalah ide bagus. Ya, mungkin dengan bayi tertutup total akan menghindarkan bayi dari dinginnya angin, atau teriknya matahari. Wajar saja logika ini muncul karena tiap kali cuaca kurang bersahabat, manusia akan mencari tempat berlindung.

    Jangan lupa, bayi merupakan manusia kecil yang masih lemah. Menutup bayi dengan kain gedong sepenuhnya hanya mempersempit jalur oksigen. Tak perlu kaget, begitu kain dibuka, bayi mengalami beberapa hal tak diinginkan, salah satunya sesak nafas dan badan lemah.

  5. Leher tergantung
    Kain bedong dan alat gedong lainnya bisa dirancang untuk menopang tubuh. Akibatnya, banyak leher bayi bebas begitu saja di udara tanpa perlindungan. Mungkin bagi bayi yang lebih tua, kondisi tersebut tidak masalah, lain dengan bayi berusia dibawah 6 bulan.

    Pada awal pertumbuhan, bayi belum punya otot yang kokoh. Tulang bayi yang rentan dengan bebas tergantung begitu saja tanpa perlindungan. Karenanya, bayi kemungkinan besar terkena cidera leher jika dibiarkan bebas di udara. Gunakan tangan ayah atau bunda guna pastikan si kecil terhindar dari cidera.

  6. Kaki bayi lurus
    Ryan Reynolds, aktor pemeran Lala Land, dan Deadpool ini menuai kritik di ranah orang tua internasional. Foto jepretan paparazzi membuktikkan kesalahan gendong berupa kaki bayi yang lurus tergantung dari alat gendong berbentuk tas punggung.

    Menurut kesehatan, kaki bayi memang seharusnya berbentuk aneh, atau biasa disebut posisi kodok ketika sedang digendong. Kaki yang terlalu turus berarti membebankan segalanya pada pinggul. Pada banyak kasus, kesalahan inilah yang buat buah hati orang tua mancanegara divonis kelainan pinggul.

  7. Terlalu cepat gendong depan
    Pemakaian alat gendong modern kerap kali lebih nyaman kalau bayi digendong menghadap ke depan. Selain bayi bisa melihat pemandangan, udara yang didapat juga lebih luas. Sayangnya, posisi satu ini juga kurang tepat.

Tidak ada yang salah dengan menggendong depan bagi bayi yang sudah cukup umur. Lain cerita dengan bayi dibawah 4 bulan. Cara menggendong bayi di depan di kala tidak tepat malah menganggu perkembangan otot.(HN)

 

 

 

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *