Alasan Dibalik Bayi Susah Sendawa Setelah Minum ASI dan Solusi Tepat Efektif

cara pijat bayi

www.ibudanbalita.com

Usai menyusui, terdapat aturan tidak tertulis untuk menepuk punggung bayi. Tujuan melakukan hal tersebut, tak lain dan tak bukan adalah mendorong bayi sendawa. Namun, apa jadinya bila bayi susah sendawa setelah minum asi? Bisa jadi timbul kekhawatiran di benak ayah bunda. Kendati demikian, kondisi tersebut tidaklah istimewa, mengingat ada ribuan bayi di luar sana dengan kasus serupa.

Kenapa bayi butuh sendawa?

Sendawa merupakan pertahanan tubuh yang cukup unik. Salah satu ungkapan ‘makan angin’ ternyata tidak sepenuhnya mustahil. Kala seseorang makan, memang ada beberapa ruang untuk udara masuk bersama makanan. Beda antara udara yang masuk untuk keperluan oksigen dengan udara yang bercampur dengan makanan adalah cara mengolahnya.

Udara yang masuk bersama makanan tidak langsung diolah menjadi oksigen. Melainkan, udara tersebut terdiam dalam tubuh menunggu kesempatan keluar. Nah, sendawa merupakan sistem tubuh untuk membuang ekstra udara yang termakan, bayi juga demikian.

Beberapa bayi yang tidak diberikan kesempatan atau mampu bersendawa bisa berakibat fatal. Terlalu banyak udara tak dibutuhkan dalam tubuh hanya membuat mual. Muntah, timbunan gas, sampai yang paling terlihat yakni rewel, bisa jadi disebabkan oleh sendawa yang tertahan.

Ketika mendorong sendawa pada bayi, orang tua pada umumnya menggunakan teknik tepuk punggung. Jangan salah, bukan berarti ayah bunda menepuk keras punggung bayi. Ingat, bayi adalah mahluk lemah yang salah tenaga sedikit saja, si kecil bisa hancur di dalam. Dalam masalah bayi susah sendawa sekalipun, tidak ada salahnya bila orang tua memakai cara tepuk punggung.

Eksperimen dengan posisi yang berbeda ternyata mampu mendorong tingkat kesuksesan sendawa. Ya, banyak orang tua mendapati bahwa membuat bayi sendawa bukan persoalan yang sulit, meski beberapa berpendapat lain. 3 posisi solusi bayi sulit sendawa dibawah ini mungkin bisa berikan inspirasi layak coba:

  1. Posisi bayi di depan dada bunda

Guna mengatasi masalah tersebut, bunda atau ayah disarankan duduk sambil menggendong bayi. Topang leher si kecil dengan satu tangan dan tangan satunya lagi digunakan untuk menahan bobot tubuh. Dekatkan kepala bayi pada dada bunda, cenderung menempelkan, dan tepuk-tepuk pelan.

 

  1. Posisi bayi di atas lutut bunda

Tidak selamanya cara menempelkan pada dada langsung membuahkan hasil. Alih-alih problematika bayi sendawa teratasi, justru bayi hanya diam melonggo. Cara kedua berfokus pada memberi ruang udara pada si kecil.

Gendong bayi seperti biasa, dengan menopang leher buah hati dengan satu tangan. Perbedaan cara kedua dan pertama adalah, peletakan bayi bukan mendekati bunda melainkan agak menjauh. Posisi bayi menghadap si kecil, terutama pada bagian lutut.

 

  1. Tidurkan bayi pada kondisi terlentang

Terlentang merupakan posisi paling umum dalam menggendong bayi, terutama pada jam tidur. Menurut perhitungan ilmiah, menggendong bayi pada posisi terlentang bisa mendorong keluarnya sendawa. Cara menggendong bayi yang satu ini sangat mirip dengan teknik gendong biasanya, yakni dalam posisi mendatar, topang tubuh bayi hingga sedikit miring.

Fakta bayi yang cukup unik terjadi di usia 6 bulan. Pada usia 6 bulan sangatlah sering ditemui bayi memuntahkan air susu ibu. Bukan berarti bayi tidak doyan, melainkan susu tersebut tidak ‘terjun’ ke dalam perut melainkan nyangkut. Layaknya keluarga cairan, susu akan mencari jalan keluar, yakni lewat mulut si kecil.

Apabila hal ini sampai terjadi, cobalah mengulangi ketiga langkah tersebut. Berhubung bayi 6 bulan tergolong fase yang cukup tua, kemungkinan besar bukan masalah bayi tidak mampu sendawa, hanya saja butuh waktu bagi tubuh untuk mengusir sendawa dari dalam mulut. Cobalah menggendong bayi pada posisi lurus sekitar sepuluh sampai lima belas menit sambil menepuk punggungnya. Lantas, lihat apakah cara tersebut memang berhasil.

Salah satu alasan mengapa bayi sulit bersendawa bisa karena gangguan tubuh. Bayi yang sering rewel, dan kentut, atau muntah kemungkinan besar terjangkit gastroesophageal reflux disease (GERD). Penyakit satu ini bisa timbulkan drama, mengingat bayi akan makin kesulitan bersendawa. Namun, bukan alasan bagi bunda untuk menyerah begitu saja!

Frekuensi sendawa berperan cukup besar dalam mengurangi gejala atau kondisi gastroesophageal reflux disease. Cobalah menepuk-nepuk punggung setiap 5 menit sekali. Umumnya bayi hanya ditepuk ketika usai minum susu, berhubung ini kasus khusus, tentu lain cerita lagi. Kadang, pada satu titik bayi akan kembali kesulitan sendawa, tidak perlu bersedih.

Ketiga cara yang telah disebutkan tidak hanya berguna untuk bayi dalam kondisi normal. Cobalah setiap posisi yang disarankan, entah posisi menempel dada, jauh dari bunda, atau tiduran, yang jelas salah satunya punya potensi berhasil. Apabila masih belum berhasil, ada baiknya ayah atau bunda bereksperimen sendiri guna menemukan posisi dorong si kecil sendawa terbaik.

Gastroesophageal reflux disease (GERD) bukan satu-satunya pembuat onar. Masih ada lagi masalah yang berkaitan dengan gas, atau biasa dikenal dengan sebutan colic. Ya, penyakit yang mengincar area perut ini makin diperparah dengan timbunan udara yang  tak kunjung pergi. Bahkan, sumber udara tersebut tidak melulu berasal dari makanan. Bayi yang sering menangis keras, kemungkinan besar menghirup udara penyebab colic.

Obat-obatan yang dijual bebas di pasaran, seringkali klaim mampu atasi kondisi bayi. Kendati demikian, bukan berarti alternatif kimia adalah yang terbaik. Kalau memang mungkin bayi susah sendawa setelah minum asi sebaiknya diatasi dengan cara alami.(HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *