Anak Suka Makan Mendadak Jauhi Hidangan? Waspadai Resiko Anorexia!

Anak Susah Makan

http://parentinganak.com

Anak suka makan merupakan anugrah tersendiri pada masa pertumbuhan. Umumnya, orang tua akan kesulitan memasukkan barang 1 sendok saja ke dalam mulut si kecil. Lain cerita, bila anak akhirnya memilih untuk makan atau malah ketagihan mengkunyah. Tentu saja ayah bunda tinggal duduk santai, selama makanan masih masuk mulut. Namun, bagaimana bila anak mendadak berhenti?

Manusia terbiasa dengan rutinitas, tapi tidak dengan perubahan. Sebagian besar orang memilih jalan hidup yang sama, dan cenderung stabil dibanding jenis hidup berliku-liku dan membutuhkan adatapsi. Kadangkala, menyadari alasan di balik suatu perubahan kadang menjadi alat deteksi masalah lebih awal.

Kesenangan terhadap makanan bukan sesuatu yang bisa diajarkan ayah bunda begitu saja. Tak jarang selera dan keinginan makan si kecil jadi alasan utama baginya untuk terus menyantap makanan. Apabila perilaku berubah drastis, sampai anak tidak lagi nafsu menyentuh makanan yang sangat ia cintai, bisa jadi ada yang salah.

Anak kecil malas makan rasanya sudah biasa. Orang tua biasanya menganggap perilaku buah hati yang tidak mau makan hanya bagian dari masa kecilnya. Ya, memang ada kalanya anak tidak ingin makan tanpa alasan, selama masih dalam batas wajar.

Sehari dua hari harusnya bukan masalah bagi anak untuk jauhi makanan. Selama anak masih mampu rasakan lapar, orang tua bisa asumsi bahwa kebiasaan barunya yakni makan sedikit hanya fase semata. Mungkin mirip dengan orang dewasa yang pada satu titik tidak ingin menyentuh makanan entah karena tekanan atau malas saja. Lain cerita bila kebiasaan tidak mau makan kian hari makin parah dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama.

Daftar penyakit yang berhubungan dengan malas makan sebetulnya cukup panjang. dari sekian banyak mungkin sakit perut akibat telat makan, atau salah kombinasi bisa sebabkan nafsu makan pergi ‘liburan’. Misalkan saja makan telur dengan melon, atau yoghurt bisa memicu rasa tak nyaman di area perut. sayangnya, nasib kadang berkata lain, penyebab susah makan bukan hal sepele seperti sakit perut namun penyakit berat macam anorexia.

Anorexia umumnya diasosiasikan dengan model, terutama perempuan. Tuntutan kecantikan yang cukup berat di masyarakat Indonesia yakni badan kurus, tinggi semampai dengan rambut lurus panjang memberi tekanan tersendiri. Feminisme mungkin telah merajalela di kalangan perempuan tanah air, tapi tak menutup kemungkinan keinginan tampil seramping mungkin muncul. Pemahaman semacam inilah yang picu anorexia.

Jaman selalu berubah, sepertinya sudah sangat jelas buktinya. Sayang, tidak semua kemegahan gedung, kekuatan ekonomi, dan canggihnya teknologi berdampak positif bagi aspek kehidupan manusia. Penelitian terbaru menunjukkan, anorexia tak lagi sekedar ancaman di kalangan perempuan dewasa dan remaja, namun kondisi yang pengaruhi nafsu makan ini melebarkan sayap dalam lingkup anak-anak. Kini, ana usia sepuluh tahun saja bisa kena anorexia.

Fakta mengejutkan seputar anorexia sudah buat banyak kepala bahkan para ahli dan peneliti tak habis pikir. Otak akan makin berputar kalau ayah bunda memahami apa itu anorexia.

Anorexia memang sudah menyusahkan sejak tahun seribu enam ratus delapan puluh sembilan. Bayangkan saja, bangsawan seperti ratu Skotlandia, Mary, pernah terserang anorexia. Sir William Gull, dokter pribadi ratu Viktoria berjuang menyadarkan masyarakat mengenai bahaya anorexia, yang kini jadi dilema banyak orang tua. Tak habis pikir, apa alasan anak kecil yang seharusnya masih polos bisa terjangkit penyakit berbasis gangguan psikologis macam anorexia?

Tidak banyak yang bisa ditemukan saat mencari jurnal kesehatan seputar anorexia. Hingga kini, ahli-ahli kesehatan masih berjuang mencari penyebab datangnya anorexia. Fisik penderita, secara keseluruhan seharusnya tidak masalah. Hanya saja, pikiran yang dihantui anorexia akan secara tegas menolak makanan yang masuk, atau mau mengkunyah tapi akan langsung dimuntahkan saat itu juga. Gampangnya hanya mau memanjakan lidah dan bukan perut.

Sejauh ini, diagnosa anorexia hanya sebatas psikologis saja. Anggapan bahwa tekanan untuk penuhi gambaran perempuan kurus membuat pikiran terganggu cukup populer di kalangan ahli kesehatan. Sayangnya, memang hipotesis atau anggapan tersebut memang ada benarnya.

Anorexia tidak menyerang langsung, namun perlahan tapi pasti. Pertama, korban akan merasa dirinya jelek sehingga butuh mengurangi berat badan. Nasi yang awalnya satu centong, berkurang jadi setengah, sampai akhirnya hanya tersisa satu sendok atau malah tidak sama sekali. Lauk pauk makin tak terlihat, sampai akhirnya sayur sekalipun tak lagi anggota hidangan. Disinilah tubuh akan mulai terbiasa untuk tidak menerima makanan.

Rasa ditolak itu sakit, tidak ada manusia yang suka dengan harapan yang tak terpenuhi. Namun, kadangkala, penolakan yang terus menerus timbulkan perasaan menerima secara hati maupun tubuh. Logika yang sama terjadi pada bayi yang dibiarkan menangis hingga pada satu titik dirinya akan berhenti meminta belas kasih dari orang lain, begitu pula anorexia.

Anak-anak seharusnya tidak terbebani standard kecantikan, tapi itu tempo dahulu. Adanya situs-situs tak bertanggung jawab dengan akses internet yang sangat mudah buat pengetahuan anak mengenai dunia semakin cepat. Belum lagi, pengaruh dari kakak atau bahkan orang tua yang terobsesi dengan kecantikan.

Anorexia pada anak bukan sekedar materi bacaan, namun hal yang sangat nyata. Perhatian khusus sudah sepantasnya diberikan orang tua. Usahakan analisa betul dan cari alasan penyebab anak suka makan mendadak ogah menyentuh hidangan rumah yang paling dirinya sukai sekalipun.(HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *