Anggapan Salah Tentang Vaksin Yang Sudah Dibantah

mitos dan fakta vaksin

www.ibudanbalita.com

Masih ada kontroversi tentang vaksin. Mengapa? Karena banyak orang yang mendapatkan informasi setengah-setengah. Ini kesimpuan yang sementara ini bisa diterima.

Meskipun demikian, program vaksinasi atau imunisasi tetap berjalan. Lihat saja, berita yang sempat menggemparkan di tahun lalu, yaitu tentang vaksin palsu. Kenapa banyak orang tua yang menuntut pemerintah untuk melakukan jadwal ulang vaksinasi? Ini menjadi bukti bahwasannya banyak masyarakat yang menganggap vaksinasi itu penting.

Memang ada rumor miring. Contohnya saja kasus kematian anak bernama Razqa yang ditengarai disebabkan oleh imunisasi. Ini juga menyebabkan kontroversi. Ada yang bilang itu disebabkan imunisasi. Tentunya mereka itulah yang selama ini tidak setuju dengan program ini. Namun, yang paling masuk akal adalah karena penanganan yang kurang optimal. Dikabarkan Razqa tidak mendapatkan penanganan yang memadai ketika terjadi demam yang menyebabkan kejang.

Terlepas dari hal tersebut, vaksin jelas sangat diperlukan untuk bayi dan anak. Apalagi anggapan salah tentang vaksin ini sudah dibantah lho.

Vaksin Haram

Bisa dikatakan faktor agama inilah yang paling kuat membuat orang tidak mau anak mereka diimunisasi. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah agama islam. Ada beberapa pendapat yang mengatakan imunisasi itu haram karena vaksin yang digunakan berasal dari bahan yang diharamkan dala islam, yaitu berasal dari media ginjal babi. Inilah alasan utama mereka yang kontra dengan imunisasi.

Keadaan ini membuat MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa vaksin halal. Tentu fatwa ini tidak dikeluarkan begitu saja. Mereka melakukan penelitian kemudian mempertimbangkan dari segi hukum islam. Dan mereka membuat fatwa bahwasannya vaksin itu halal.

Sebenarnya, sudah tidak ada lagi hal yang perlu diragukan lagi ketika sudah keluar fatwa tersebut. Namun, mengapa masih ada yang ragu dan tidak mau anaknya divaksinasi?

Lagi-lagi mereka mencari alasan yang lain. Mereka beranggapan ulama di MUI tidak mengambil hukum langsung berdasarkan Alquran dan Sunnah. Bahkan, sekarang ulama seolah-olah dikotak-kotakkan menjadi ulama yang baik dan kurang baik.

Entahlah. Yang pasti, anggapan salah tentang vaksin sudah dibantah oleh ulama yang notabene tahu persis tentang hukum agama.

Vaksin Menyebabkan Autis

Kontroversi tidak hanya terjadi karena aspek agama, tapi juga dunia medis. Terdengar rumor tentang vaksinasi yang merupakan salah satu faktor penyebab autis. Benarkah ini?

Para ahli kesehatan tidak menampik adanya kemungkinan tersebut. Setelah anak mendapatkan imunisasi, maka beberapa reaksi akan timbul. Yang paling sering terjadi adalah demam. Dan reaksi ini bisa diminimalisir ketika vaksinasi dilakukan sedini mungkin.

Bagaimana dengan efek berupa autis? Kabar ini sebenarnya terdengar setelah ada anak dari Amerika yang mengalami penurunan pertumbuhan, komunikasi, serta terjadi perubahan perilaku yang mengarah ke autis. Sayangnya, sampai sekarang, belum ada penelitian yang pasti apakah itu disebabkan oleh vaksinasi atau bukan.

Lebih jauh lagi, ada yang mengatakan ini merupakan kampanye hitam. Ada pihak yang memang menyebarkan berita bohong tentang vaksinasi yang menyebabkan anak autis. Dan kasus anak di Amerika yang mengalami penurunan perkembangan setelah imunisasi menjadi bumbu agar berita bohong ini masuk akal dan bisa mudah diterima oleh masyarakat.

Adalah dr. Andrew yang mengatakan bahwasannya ada vaksin yang menyebabkan autis. Beliau mendapatkan protes dan akhirnya menarik tulisanya tersebut. Hanya saja, beliau tetap bersikukuh dengan kesimpulan yang beliau dapatkan tersebut.

Dan akhirnya, para ahli kesehatan mencoba untuk menjelaskan kesalahan dari penelitian dr. Andrew. Salah satunya ditunjukkan dengan perbedaan antara efek setelah imunisasi dengan autis. Anak autis tidak diawali dengan adanya peradangan usus. Padahal, dr. Andrew mengatakan bayi atau anak autis yang disebabkan oleh imunisasi diawali dengan peradangan usus. Dari sini saja, para peneliti kesehatan sudah mempertanyakan penelitian dr. Andrew. Belum lagi fakta-fakta lainnya.

Jadi, apakah masih ada yang menganggap vaksin menyebabkan autis?

Vaksin Itu Tidak Diperlukan

Apa yang mendasari orang memiliki anggapan demikian? Tidak lain karena penjelasan medis yang menyatakan tubuh itu memiliki daya tahan sendiri yang terus menurus mengalami peningkatan. Lihat saja bayi mudah sekali sakit, bukan? Begitu juga dengan balita. terkena air hujan sedikit saja bisa demam. Lain dengan orang dewasa. Meskipun sudah diguyur hujan, mereka tetap sehat.

Akan tetapi, tunggu dulu. Jangan terburu-buru beranggapan vaksin akhirnya tidak diperlukan. Harus dipahami juga ada penyakit yang sangat mudah sekali menyerang orang. Contohnya saja penyakit hepatitis. Kekebalan tubuh alami saja tidak cukup. Dibutuhkan vaksin hepatitis yang bisa lebih melindungi tubuh agar tidak terkena penyakit ini. Begitu juga dengan penyakit lainnya seperti polio, rubella, dan lain sebagainya.

Makanya, vaksinasi itu dilakukan untuk beberapa penyakit saja. Yaitu penyakit yang mudah sekali menyerang dan menular. Tentu ibu tidak ingin anak ibu tertular dari anak lain, bukan? Maka, imunisasi seharusnya dilakukan secara Menyeluruh. Semua anak harusnya mendapatkan imunisasi.

Mmasih banyak anggapan salah yang lainnya. Hanya saja, tiga hal tersebut di atas yang paling sering diamini orang yang menganggap vaksinasi itu tidak perlu dilakukan. Bagi mereka, lebih banyak kerugian daripada manfaat dari vaksinasi.

Bagaimana dengan pendapat ibu? Tentu ibu harus menghargai orang yang masih memegang anggapan salah tersebut di atas. Biarkan mereka terus memperkaya wawasan dan keilmuan sehingga mereka secara sendirinya mengerti betapa pentingnya vaksin untuk anak.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *