Anugrah Dibalik Demam Pada Bayi

demam pada bayi

Source: MomJunction

Demam pada bayi bukan hal aneh, sebagian besar bayi berusia dibawah 1 tahun harus alami. Rasa khawatir dan sedih mampir ke dalam hati ayah dan ibu sepertinya bukan hal yang aneh. Obat, dokter, minta saran, semua sumber daya dikerahkan demi membasmi suhu panas pada bayi. Tunggu dulu, jangan-jangan orang tua selama ini salah kaprah dan mengusir teman dibanding musuh?

Percayakah pembaca jika demam dinyatakan sebagai pembantu kesehatan anak dan bukan penyakit?

Ujian dalam hidup ini tidak pernah menyenangkan. Tidak ada yang suka dengan rasa tidak enak dibawa oleh ‘bencana’ dalam keseharian. Kalau bisa, ingin rasanya jadi Nobita dan minta alat percepat waktu milik Doraemon. Hasil akhir ujian boleh saja diperoleh namun proses ‘sakit’ sebaiknya fast forward atau percepat saja. Ternyata, hal yang sama berlaku pada demam.

Entah percaya atau tidak, demam tidak selalu mampir karena bayi mengalami masalah besar. Ya, betul, beberapa penyakit memang ditandai dengan panas tubuh, akan tetapi bukan berarti ‘kunjungan’ demam bertujuan serupa tiap waktu. Manfaat demam terdengar konyol, walaupun dua kata tersebut merupakan salah satu hal paling nyata yang pembaca bisa temui, dan banyak terjadi pada buah hati orang tua di seluruh dunia.

Orang tua yang rada ‘heboh’ dalam mengatasi demam tidak sendirian. Seorang dokter anak bernama Borton Schmitt punya celetukan “phobia demam” guna menggambarkan orang tua yang percaya bayi pasti hendak sakit keras saat demam. Kendati dokter Borton menyatakan hal tersebut pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh, phobia demam termasuk rasa takut yang tidak pernah hilang hingga sekarang.

Tiga puluh tujuh tahun berlalu sejak dokter Borton menciptakan kata phobia demam, dan survey dari jurnal pediatrics makin menguatkan fakta kini. Sembilan puluh satu persen responden percaya demam tidak pernah datang membawa niat baik, bahkan lima puluh enam persen diantara pengasuh tetap yakin demam berarti bayi sedang sakit parah. Ditambah lagi, delapan puluh sembilan persen waktu, digunakan untuk pengobatan tak perlu berdasar diagnose mandiri.

Namanya survey mungkin tidak berlaku bagi semua orang. Tapi melihat angka yang demikian besar, bisa jadi pembaca termasuk kategori setuju terhadap hasil survey. Inilah kenapa, sudah saatnya pembaca atau orang tua di seluruh dunia perlu pahami demam lebih lanjut sebelum menilai sembarangan lebih jauh.

Nothing bad is going to happen if you don’t treat the fever”

“Tak ada hal buruk yang akan terjadi jika anda tak atasi demam”

Kutipan dokter Ari Brown, ahli kesehatan anak dari Austin Texas, pembicara American Academy of Pediatrics (APP) patut dipertimbangkan. Meraih obat terutama berbahan dasar kimia sembarangan justru merusak kemampuan tubuh bayi mengatasi masalah sejak dini. Penelitian demi penelitian bahkan didedikasikan untuk mengenal demam si kecil lebih lanjut. Lagipula, kata prasangka tidak ada dalam kamus ilmiah.

Journal of Allergy and Clinical Immunology terbitan Febuari tahun dua ribu empat mencoba menjelaskan ‘itikad baik’ yang dibawa demam. Hasil penelitian menunjukkan bayi yang terjangkit demam di usia muda sangat kecil kemungkinan punya alergi di masa depan dibanding bayi yang tak perlu mengalami fase demam sejak dini. Bahkan, demam sendiri bisa jadi dipicu tubuh bayi sendiri dan bukan disebabkan oleh virus sebagaimana kabar yang beredar di tanah air.

Infeksi tidak mudah dihindari. Mengingat manusia akan menghadapi beragam persoalan eksternal menyangkut tubuh, maka bayi bukan pengecualian. Mahluk polos nan suci ini sangat mungkin beresiko terkena infeksi telinga, flu, dan semacamnya. Berhubung daya tahan tubuh belum cukup pengalaman, maka kenaikan suhu tubuh menjadi bentuk perlawanan terhadap beragam ‘tamu tak diundang’.

Lucu tapi nyata, neraka dibuat panas bukan tanpa alasan. Beberapa mahluk mungkin tahan melawan hawa dingin, bahkan manusia sekalipun bisa hidup dalam iklim suhu rendah. Dingin bisa sebabkan hiportermia, hingga kematian, namun panas bisa sangat mungkin hancurkan hidup suatu mahluk. Api menghancurkan lebih cepat dengan tingkat kematian yang cukup besar jadikan argumen panas tak diragukan lagi level bahayanya.

Bakteri, kuman, dan beragam penyebab penyakit lain telah terbukti lemah terhadap panas. Hal ini menjelaskan kenapa memasak daging sapi harus dalam panas tinggi dengan tingkat kematangan baik untuk hilangkan kuman yang mungkin pernah menetap. Contoh lain dari penggunaan panas untuk mengusir kuman adalah bagaimana pembersihan atau sterilisasi suatu barang kerap memanfaatkan suhu tinggi.

Tubuh punya sistem yang cukup unik. Pada saat kuman atau bakteri tak diinginkan tinggal seenaknya dalam tubuh, pengusiran yang dilakukan cukup galak. Sebetulnya penyebab utama bayi demam kemungkinan besar karena tubuh sedang berjuang menghilangkan bakteri. Kalau seandainya panas demam adalah keamanan wilayah hunian, maka cara pengusirannya penghuni tak diinginkan cukup sadis, yakni dibakar.

Manusia tergolong mahluk yang tak mampu bertahan hidup dalam suhu yang terlalu tinggi. Pembaca yang sering tangani bayi, mungkin sadar bila suhu demam tidak akan mencapai level ekstrem hingga mendidih. Bakteri jahat dalam tubuh sebetulnya tidak langsung mati ketika dipanaskan, melainkan, secara perlahan menghentikan pertumbuhannya.

Sistem tubuh si kecil sepertinya sudah dalam kontrol yang cukup baik. Walaupun demikian, tetap ada hal yang bisa dilakukan orang tua. Alih-alih mencari obat demam, coba berikan bayi vitamin peningkat daya tahan tubuh. Faktor terakhir yang cukup penting, pastikan tangani demam pada bayi dengan kepala dingin.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *