Begini Cara Psikolog Mengukur Kecerdasan Anak

kecerdasan anak

www.ibudanbalita.com

Ibu mungkin salah satu orang tua yang ingin sekali mengukur kecerdasan anak. Lalu ibu membawa si kecil ke tempat psikolog yang bisa melakukan penghitungan kecerdasan atau IQ anak.

Namun, apakah ibu pernah berpikir validkah pengukuran tersebut? Bahkan, banyak orang yang tidak percaya dengan hal tersebut. Tidak logis bagi mereka karena bagaimana kecerdasan bisa diukur.

Dalam dunia akedemis, dalam hal dunia psikolog, memang ada tes yang digunakan untuk mengukur IQ anak. Namun, ada banyak orang yang salah dalam menanggapi pengukuran ini.

Bagaimana Mengukur Kecerdasan Anak

Tentu psikolog yang tahu persis secara teknis bagaimana cara mengukur kecerdasan anak. Akan tetapi, ibu bisa mengetahui gambaran besar bagaimana tes ini dilakukan.

Yang pasti, jangan beranggapan tes ini bisa mengetahui semua kecerdasan anak secara keseluruhan. Kecerdasan itu berbeda-beda. Ada anak yang cerdas di dalam bidang seni, sosial, teknik, matematika, dan lain sebagainya. Sementara, tes kecerdasan anak ini lebih bersifat logis. Jadi, anak akan diukur bagaimana kecerdasannya dalam memecahkan masalah, misalnya.

Tentu saja masalah yang diajukan di dalam tes tersebut tergantung berapa usia anak. Soal yang diberikan disesuaikan dengan usia anak.

Karena bersifat logika, maka tes ini sering disebut dengan tes untuk mengetahui kemampuan matematika anak. Maka sangat wajar ketika anak yang memiliki IQ tinggi itu memiliki kemampuan di bidang matematika yang begitu luar biasa. Hal tersebut memang dikarenakan metode untuk mengukur kecerdasan anak itu didasarkan pada kemampuan logika anak.

Maka dari itu, yang bisa melakukan pengetesan atau pengukuran ini hanya psikolog anak. Mereka tahu instrumen apa yang dibutuhkan untuk mengukur kecerdasan otak anak. Tak jarang sekolah menggandeng psikolog. Selain untuk membuat orang tua semakin tertarik untuk memasukkan anaknya ke sekolah, ini juga sebagai salah satu cara untuk memetakan kecerdasan tiap peserta didik.

Anggapan Salah Mengenai Ukuran Kecerdasan Anak

Secara ilmiah, memang metode pengukuran kecerdasan anak itu bisa diterima. Ini metode yang sangat masuk akal. Akan tetapi, ada kesalahpahaman yang diamini sebagian besar masyarakat.

Banyak yang menganggap nilai kecerdasan anak itu sebagai kunci apakah anak ketika dewasa nanti menjadi orang sukses atau tidak. Ini jelas anggapan yang salah. Kesuksesan itu tidak ditentukan apakah anak itu cerdas atau tidak. Ibu bisa lihat banyak jutawan yang berasal dari keluarga tidak mampu yang tidak bisa menyekolahkan ke jenjang pendidikan yang tinggi. Jelas jika dilihat dari kecerdasan, orang yang berpendidikan tinggi jauh lebih cerdas, bukan?

Selain itu, mereka juga lupa atau bahkan tidak tahu bahwasannya tes kecerdasan anak itu hanya digunakan untuk mengetahui logika berpikir anak. Di antaranya tentang bagaimana kemampuan anak dalam memecahkan masalah.

Jadi, hasil dari tes IQ anak ini tidak boleh dijadikan patokan apakah anak kelak menjadi orang yang sukses atau tidak. Bahkan, hasil ini juga tidak bisa digunakan untuk menilai apakah anak pasti sukses di sekolah atau lembaga pendidikan. Karena kecerdasan itu tidak hanya bersifat logis saja.  Ada kecerdasan emosional. Ada anak yang tidak cerdas di bidang logika, tapi luar biasa di bidang seni.

Nilai Kecerdasan Anak Berubah

Ibu bisa saja bangga karena hasil nilai IQ sang buah hati sangat tinggi. Bahkan, nilainya di atas nilai dari anak-anak sebayanya.

Akan tetapi, harus dipahami juga bahwasannya kecerdasan anak itu berubah sesuai dengan perkembangan usianya. Maka dari itu, nilai IQ nya pun bisa berubah. Maka dari itu, psikolog menggunakan instrumen yang berbeda. Mengukur kecerdasan balita usia 3 tahun berbeda dengan mengukur kecerdasan anak usia 7 tahun. Tes serta soalnya berbeda.

Maka dari itu, sebagai orang tua, ibu harus terus membantu mengasah kecerdasan anak. Jangan menganggap kecerdasan itu sebuah gifted atau anugrah. Kecerdasan ini seperti pisau yang jika tidak digunakan maka pisau tersebut akan tumpul. Apalagi tidak diasah, pisau akan berkarat. Kecerdasan juga seperti itu. Kecerdasan itu harus digunakan dan diasah agar terus berkembang, bukan justru sebaliknya dibiarkan saja sehingga kecerdasan anak cenderung menurun.

Menilai Kecerdasan yang Sebenarnya

Apakah metode yang digunakan oleh psikolog untuk mengetes kecerdasan anak sudah cukup? Untuk hal logika dan matematika, sangat cukup sekali. Akan tetapi, harus dipahami banyak sekali jenis kecerdasan. Ada kecerdasan emosi, kecerdasan dalam bersosialisasi dengan orang lain, kecerdasan beradaptasi, serta kecerdasan lainnya yang sama sekali tidak mengandalkan logika dan kemampuan kognitif.

Maka dari itu, yang sebenarnya bisa mengukur kecerdasan anak tidak lain adalah ibu sendiri. Ibu bisa menyerahkan urusan pengukuran kecerdasan matematika kepada psikolog. Tapi, untuk hal lain, ibu adalah ahlinya. Ibu orang yang selalu bersama dengan si kecil yang tahu persis bagaimana perilakunya.

Ada yang mengeluh. Sekarang ini, banyak anak yang cerdas namun tidak sopan. Ini artinya orang tua sekarang ini lebih memahami kecerdasan itu hanya bersifat akademis. Sementara itu, kecerdasan emosional dan kecerdasan lainnya tidak dilibatkan. Akibatnya, banyak orang yang pintar namun tidak memiliki empati. Ada juga orang cerdas namun kecerdasannya tersebut digunakan untuk menipu orang lain. Ini tanda bahwasannya kecerdasan logis atau matematika yang bertumpu pada sisi akademis itu tidak hal yang utama. Etika yang baik juga bagian dari kecerdasan. Maka dari itu, ibu juga perlu mengukur kecerdasan anak dari sudut pandang yang berbeda, bukan hanya dari IQ saja.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *