Cara Membuat Anak Pintar Tepat Sasaran Dengan Home Schooling

Cara Membuat Anak PintarKemajuan teknologi era kini membuat sekolah seolah sedikit tertinggal. Pelajar tidak lagi mengandalkan buku perpustakaan untuk mencari informasi dan pemahaman, melainkan situs pencari menjadi pilihan. Terkadang, rasa ragu terhadap sistem edukasi menimbulkan pertanyaan semacam apakah cara membuat anak pintar harus melulu datang ke sekolah?

Home schooling di Indonesia merupakan hal yang jarang terdengar. Ya, trend mengajar anak di rumah sebetulnya telah dimulai jauh sebelum Alfa Edison, pencipta lampu ternama. Di negara paman Sam alias Amerika sendiri, belajar mandiri di rumah telah dilakukan, hingga terbentuklah aturan untuk menghadiri sistem pendidikan sekolah dalam bentuk lembaga.

Penelitian menunjukkan, mengajar anak di rumah alias metode home schooling menawarkan beragam manfaat yang luar biasa. Orang tua tidak perlu khawatir pengaruh tak sesuai budaya di rumah yang dibawa oleh teman sepergaulan, atau mungkin cuci otak secara verbal dari pengajar yang memiliki agenda entah politik atau agama tersendiri. Belum lagi, anak menjadi lebih dekat dengan ayah bunda serta mampu memahami bidang yang diminati lebih dalam.

Kedengarannya memang menyenangkan, dan mudah. Kenyataannya manfaat home schooling tidak tersalurkan dengan baik karena langkahnya kurang tepat. Ya, guna memastikan pembelajaran di rumah berjalan dengan baik, dari segi orang tua haruslah melakukan persiapan home schooling. Tenang, tidak banyak, cukup 10 langkah:

  1. Buat daftar mengapa anak harus home schooling
    Langkah pertama cukup mudah dan mendasar. Berhubung nanti orang tua akan memerlukan displin ketat dan komitmen dengan anak, maka motivasi yang tepat menjadi fondasi utama.

    Tidak perlu bercerita panjang lebar guna menentukan sedemikian rupa alasan untuk home schooling. Secarik kertas terkadang jauh lebih efektif dibanding setumpuk kertas berisi tulisan penuh. Asalkan orang tua bisa mengingat kenapa anak harus belajar di rumah, maka perjalanan menuju lulusan belajar mandiri di rumah akan terasa lebih mudah.

  2. Tentukan tujuan dalam mengajar
    Salah satu alasan mengapa lembaga sekolah menjadi pilihan banyak orang adalah struktur yang telah ada. Terlepas dari siapa yang mengajar, dari pemerintah sudah ditentukan apa hasil akhir yang harus dicapai oleh murid. Kasus yang berbeda berlaku pada orang tua yang memilih home schooling dimana struktur dibuat sendiri.

    Orang tua wajib memikirkan apa yang ingin diajarkan pada si kecil. Anak jenius sekalipun tak akan membuahkan hasil bila tidak ada tujuan yang pasti. Misalkan saja, orang tua ingin berfokus mengajarkan matematika sebagai bagian pendidikan tiga bulan kedepan. Mengetahui apa hasil akhir dari pembelajaran matematika, pastilah penting. Contoh saja, belajar matematika dan dalam 3 bulan anak memahami perkalian, pertambahan, pengurangan, dan pembagian dalam bentuk uang.

  3. Bikin sesi mengajar menyenangkan
    Anak kesal dengan guru atau teman di sekolah mungkin bisa saja mencurahkan isi hati pada anggota keluarga di rumah. Lain cerita dengan mereka yang harus menghabiskan setidaknya dua puluh empat jam bersama orang tua. Apalagi, kerap kali peran mengajar dibebankan pada ayah atau bunda. Otomatis, dilema pertengkaran bisa saja terjadi.

    Konsep profesional memang sepertinya sulit dipahami pada usia yang sangat belia. Inilah kenapa, orang tua sebaiknya mulai memikirkan bagaimana membuat sesi kelas menyenangkan namun di saat bersamaan tidak terkesan intimidasi pada anak. Usahakan untuk selalu bicara dengan si kecil, terutama mengenai perasaan masing-masing dan gangguan yang bisa jadi dialami.

  4. Pahami cara mengajar
    Orang tua bisa saja lulusan S3 dengan gelar doktoral dari universitas terkenal semacam Harvard, tapi tidak menjamin dapat mengajar dengan baik. Alasan mengapa profesi guru jauh lebih berat dari yang terlihat adalah kemampuan untuk menjelaskan. Tidak banyak orang mampu menjelaskan sesuatu dengan baik meskipun sudah memahami suatu ilmu secara keseluruhan.

    Kesalahan mendasar praktisi home schooling adalah kepercayaan diri terhadap suatu ilmu terlalu tinggi, namun tidak dapat membuat anak mengerti. Rasa frustasi bisa saja bangkit dari kedua belah pihak. Padahal, bukan orang tua yang kurang paham atau anak yang bodoh, hanya saja jalinan bahasa antar keduanya tidak pernah menyatu.

  5. Sedia duit
    Banyak orang mengira mengajar di rumah jauh lebih murah daripada sekolah. Kenyataannya, mengajar di rumah bisa jadi jauh lebih mahal dibanding menyerahkan semuanya pada lembaga pendidikan. Layaknya semua produk yang dibuat khusus, namanya kustom pastilah tidak punya biaya tetap, alias selalu berubah-ubah.

    Jangan biarkan rasa panik melanda kelak begitu bunda dan ayah tahu ada biaya untuk buku tambahan, tes lisensi, ataupun sertifikasi yang berguna untuk masa depan kelak. Berhubung anak tidak diwakili oleh lembaga apapun, kemungkinan dapat diskon sangatlah minim. Kocek yang lebih tentu lebih aman untuk dianggarkan.

  6. Periksa kembali hukum Indonesia
    Anak harus lulus mengikuti ujian nasional alias UN, dan skripsi untuk minimal sarjana merupakan bentuk jaminan mutu dari pemerintah. Tapi, bagi anak yang bersekolah di rumah, bisa jadi keputusan lulus atau tidak akan sedikit berbeda. Toh, pada akhirnya anak akan mengikuti jalur yang ditetapkan orang tua.

Dibanding sudah mengajar capek namun ternyata kemampuan anak tidak diakui, lebih baik orang tua cek terlebih dahulu apa bukti kredibilitas yang diperlukan. Bertanya pada komunitas home schooling tidak ada salahnya. Ingat, cara membuat anak pintar sangatlah beragam, bila belajar di rumah adalah alternatif terbaik, rempong sedikit tentu tak masalah.(HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *