Cara Mendidik Anak Dyslexia Tanpa Drama

cara mendidik anak disleksia

www.ibudanbalita.com

Peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia diikuti kesadaran beragam aspek kesehatan termasuk kondisi mental. Mengingat mental atau psikologis seseorang berpengaruh besar terhadap bagaimana perilaku seseorang, tentu basis atau cara mendidik anak tersebut akan berbeda satu sama lain. Bagaimana orang tua memilih langkah justru menentukan masa depan anak itu sendiri.

Anak dyslexia misalnya. Perhatian khusus dan kesabaran tingkat tinggi sangat diperlukan guna memastikan masa kecil berjalan dengan lancar. Cara mendidik anak dengan dyslexia tentu jauh berbeda dengan anak pada umumnya. Bahkan, dengan langkah tepat dyslexia bisa menjadi anugrah, begitu pula kebalikannya dimana dyslexia bisa jadi malapetaka besar.

Walaupun pembaca kemungkinan besar mampir pada topik satu ini guna mencari jawaban, tetap saja ada kemungkinan beberapa orang mungkin kurang familiar dengan kata dyslexia. Gampang saja, dyslexia adalah kondisi dimana seseorang kesulitan membaca walau tingkat intelejensinya standard bahkan di atas rata – rata.

Penyebab dyslexia masih belum diketahui. Teknologi canggih era sekarang baru menemukan secuil jawaban yakni kondisi dyslexia disebabkan kurangnya kemampuan otak menyusun kata. Huruf – huruf yang harusnya diterjemahkan otak dengan sistematis, malah berhamburan kemana – mana. Akibatnya, hasil akhir bayangan di otak jauh berbeda dengan jawaban semestinya. Membaca bisa terasa bagai mimpi buruk bagi pemilik dyslexia.

Si kecil lahir ke dunia bukan hasil kerja satu orang saja. Berbeda dengan mahluk sel satu, manusia memerlukan dua pihak kala reproduksi atau bikin anak. Setiap individu membawa genetic dari kedua orang tua, atau setiap pihak yang terlibat dalam garis keturunan. Dyslexia kemungkinan besar dipengaruhi oleh genetika atau keturunan. Bila salah satu pihak orang tua punya sejarah dyslexia, jangan kaget kalau anak mengalami hal serupa.

Unik tapi nyata, tidak hanya orang tua yang musti dituding. Kakek atau nenek buyut sekalipun bisa menjadi sebab seorang anak terkena dyslexia. Bahkan, beberapa orang tua merasa dyslexia merupakan fenomena asing, atau malah tidak tahu sama sekali sampai mendapat ‘hidayah’ baik dari medis resmi seperti dokter atau teman yang senasib. Jangan khawatir, anak ayah bunda bukan cacat hanya punya tantangan tersendiri.

Penggemar star wars atau pirates of the Caribbean pasti tak asing dengan wajah cantik khas Inggris, Keira knightley. Ya, aktor kelahiran tahun seribu sembilan ratus delapan puluh lima ini mengidap dyslexia sejak dini.

“Aku dapat diagnose dyslexia ketika berumur enam tahun. Aku bekerja keras supaya mampu atasa  dyslexia yang kuidap. Menginjak sekolah menengah pertama (SMP), kerja keras aku membuahkan hasil. Aku bisa membaca dan menulis walau sangat jelek tapi aku tidak masalah membaca naskah. Dan aku lulus sekolah dengan nilai A (sempurna)”

Kutipan dari Keira Knightley diatas tentu membuka mata orang tua yang masih kebingungan atasi dyslexia pada anak. Sekali lagi, anak dengan dyslexia bukan bodoh, bahkan sangat pintar, hanya saja kondisi otak menyebabkan susunan huruf menjadi kacau, sehingga membaca bukan bakat utamanya. Masih banyak lagi orang sukses yang walaupun bidang kerjanya membutuhkan banyak membaca tapi tetap saja bisa sukses. Tidak ada kata ‘gagal dari lahir’ bagi siapa saja yang mau berusaha.

Berhubung dyslexia sangat bermasalah pada bidang membaca, lari dari kegiatan satu ini bukan langkah baik. Sama hal dengan menghadapi rasa takut, makin dihindari pikiran bisa kian mundur, lebih baik hadapi dan biasakan diri. Tentu saja orang tua tidak perlu memaksa anak langsung bisa membaca. Nikmati proses dimana buah hati, paling tidak, mau mendekati buku.

Pengulangan kata sangat diperlukan dalam mengingat sesuatu. Kadang bisa bikin bosan, tapi titik jenuh justru pertanda manusia sudah ingat betul pesan yang disampaikan. Sediakan waktu paling tidak dua puluh menit dengan jeda istirahat sesuai kemampuan anak untuk membaca. Pertama kali, orang tua harus dominasi bacaan dengan suara lantang dan jelas, dan biarkan anak beristirahat semaunya, yang penting malaikat kecil ayah bunda mau mendekat buku.

Setiap kali anak menunjukkan ketertarikan atau bingung, berikan kesempatan si kecil untuk gantian membaca. Tidak perlu panjang, satu kalimat saja cukup. Kalau perlu, pilih buku dengan angka yang sangat besar seperti buku untuk pemula walau anak sudah masuk sekolah dasar sekalipun. Dengan demikian anak terbiasa dengan beragam kata meski hanya sedikit. Perlahan tapi pasti tambahkan panjang kalimat sampai anak bisa membaca satu halaman penuh secara mandiri.

Namanya kekurangan tentu tidak semua orang paham. Di kalangan asia, reputasi dan peringkat masih faktor utama. Tak heran, tiap kali terima raport, orang tua tanah air kebanyakan bertanya anak rangking berapa sebelum bertanya usaha anak seperti apa dan kelebihan si kecil yang menonjol. Faktor bully atau ejekan dari lingkungan banyak ditujukkan pada anak – anak yang terlihat berbeda.

Anak dengan dyslexia paham betul dirinya sedang diejek atau tidak, karena emosi anak memang dalam taraf kecerdasan pada umumnya. Hanya karena anak lamban dalam membaca dan menulis, orang awam salah kaprah dan menganggapnya bodoh. Kebanyakan anak dengan latar belakang dan demografis manapun bisa patah semangat dengan ejekan tanpa henti atau kesadaran akan kekurangan dirinya sendiri.

Musuh terbesar dalam belajar tentu saja semangat yang padam. Sebagai orang tua, masalah teknis tidak sepenting masalah jiwa. Cara mendidik anak dyslexia yang paling penting justru pemberian semangat yang konsisten.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *