Cara Mendidik Anak Mengendalikan Rasa Marah

cara-mendidik-anak

Anak kecil mau ngapain saja kesannya lucu sekali. Guling – guling, ketawa, sampai kadang pada saat ngambek sekalipun rasanya ingin mencubit pipinya lantaran gemas. Awalnya cara mendidik anak tidak ada yang terasa keliru. Namun, beranjak dewasa beberapa orang tua menyadari ekspreksi ngambek anak berubah menjadi amukan tidak terkontrol.

Teriak – teriakan dengan kata – kata yang sepertinya tidak pernah diajarkan oleh bunda dan ayah keluar dari mulut anak dengan kaki serta tangan menendang, memukul, menghancurkan mainan entah kenapa bisa dilakukan anak. Tidak ada lagi rasa gemas atau lucu melihat tingkah anak namun berubah menjadi rasa khawatir. Apa yang terjadi pada anak? Bagaimana cara mendidik anak mengendalikan rasa amarah?

Marah itu wajar. Rasa kecewa, frustasi, dan ketidak adilan merupakan bahan bakar wajib setiap bara api dalam hati anak. Jangan pernah melarang anak untuk marah, justru amarah terpendam adalah sumber kriminalitas. Diam bukan berarti baik namun amarah yang tidak sopan juga tidak patut didukung. Masa kecil dipenuhi oleh pikiran polos yang terarah pada orang tua. Madsud terarah adalah anak sangat percaya dengan tutur kata orang tua sehingga menganggap kebanyakan orang di luar sana keliru, terlebih jika hubungan orang dengan anak cukup baik. Ketika kenyataan yang dilihat anak berbanding terbalik dengan penjelasan orang tua hal itu memicu rasa kecewa dan si kecil berhak marah.

Anak – anak memang punya hak marah, hanya saja harus tersampaikan dengan baik. Berbeda dengan orang dewasa, anak kecil belum tahu apa bedanya marah dengan agresif. Bagi anak, menendang serta memukul atau berteriak adalah bentu amarah, padahal ketiga kegiatan tersebut termasuk dalam agresifitas dan bukan amarah. Perlahan tapi pasti ajari anak mengenai perbedaan marah dan agresif. Misalkan saja, anak mulai merasa marah lantas menendang mainan atau melempar barang. Sebagai orang tua, tidak ada kewajiban membereskan mainan anak. Nasihati pelan – pelan dengan berkata “Dek, kamu boleh marah, tapi melempar barang bukan cara yang baik”. Kunci dari membimbing anak adalah jangan ikutan marah. Ketika ayah bunda turut menaikkan nada suara, hanya menyiram bensin di api membara.

Perilaku anak saat marah memang berbanding lurus dengan orang tua. Apabila anda tipe orang tua yang senang berteriak ketika marah, baik pada anak maupun orang yang sembarangan menyetir di jalan misalnya, maka anak akan meniru. Kalau ayah bunda cukup lembut dalam menyalurkan amarah, maka anak mulai belajar bagaimana cara bertutur kata yang halus. Tidak perlu menunggu anak marah baru mengajari, sebagai orang tua konsisten saja memberi contoh penyaluran amarah yang baik. Sebagai contoh, bunda kesal melihat orang parkir sembarangan, alih alih mengumpat cobalah berkata dengan jelas “Bunda kesal melihat orang melanggar aturan, coba bunda komunikasikan dengan baik”. Terlepas bagaimana proses ‘berantem’ bunda dengan pelanggar di belakang anak, setidaknya anak sudah mendapat pesan bahwa segalanya bisa dikomunikasikan termasuk amarah.

Aturan dibuat demi kesejahteraan bersama. Hukum dan sanksi sejatinya bentuk awal gerakan manusia guna menyalurkan rasa marah atas ketidak adilan. Pada dunia anak kecil hukum dan sanksi juga bisa dipraktekkan dalam keluarga. Komunikasi mungkin sudah mulai berhasil, tapi anak masih saja berteriak – teriak. Beberapa keluarga merasa tidak nyaman dengan ekspreksi marah meledak – ledak dengan suara meninggi, maka masukkan dalam aturan. Ada orang tua yang menganggap anak menghentakkan kaki hanyalah ekspreksi tapi jika ada yang merasa hal itu kurang baik masukkan pula dalam aturan. Semua anggota keluarga termasuk ibu dan ayah harus melaksanakan aturan yang dibuat. Anak kecil cenderung bersemangat mematuhi aturan apabila ada hadiah dan hukuman. Cukup yang ringan saja seperti pujian namun jangan pernah memberi anak hadiah atau sanksi berupa materi. Ketika hadiah barang dipersembahkan, cenderung menimbulkan rasa tidak puas di hadiah berikutnya sehingga berdampak kurang baik.

Sekarang, anak sudah mulai mampu membedakan perasaan dan mulai mematuhi peraturan yang ada. Hal terakhir yang harus dilakukan adalah mencari cara mendidik anak mengekspresikan amarah. Energi dalam diri anak muda jauh lebih banyak dari orang tua sehingga perlu penyaluran. Penyebab utama agresivitas pada anak sebenarnya ditandai dengan amukan yang terasa berlebihan sehingga perlu dikontrol. Kesopanan memang lebih ringan dibanding menyalurkan amarah dalam bentuk agresif. Pertanyaan selanjutnya justru, energi berlebih dalam diri anak mau dilarikan kemana ?

Aktivitas yang menuntut kinerja otak sebenarnya sama menguras energi dengan aktivitas fisik yakni berlari atau bermain sepak bola. Perhatikan minat anak ada dimana. Menanyakan pada anak bisa menjadi hal bagus, kendati demikian, beberapa anak merasa tidak tahu menahu mengenai minat terlebih anak dibawah umur 7 tahun. Berikan anak mainan atau biarkan anak mendekati mainan yang ia senangi. Bola, pemukul kasti, atau sepatu biasanya menandakan anak senang bermain olah fisik. Masukkan anak dalam klub sepak bola di perumahan atau semacamnya. Beberapa anak hiperaktif atau agresif menjadikan bela diri sebagai sarana penyalur amarah sekaligus berprestasi. Lain cerita dengan anak yang hobi membaca buku atau meneliti benda – benda di rumah. Memasukkan anak dengan minat ilmu pengetahuan dalam klub sepak bola hanya bikin frustasi. Pilihkan kegiatan menguras otak seperti catur atau semacamnya. Cara mendidik anak mengendalikan amarah mudah bila dilakukan dengan tepat penuh cinta.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *