Gangguan Dyslexia Pada Kesehatan Anak Balita

gangguan kesehatan anak balita disleksia

www.ibudanbalita.com

Balita merupakan masa yang cukup penting dan menyenangkan. Selama kesehatan anak balita terjaga seharusnya semua hal akan baik – baik saja. Betapa tidak? otak balita yang makin berkembang dengan kesadaran akan emosi orang lain menjadikan bunda dan ayah tidak lagi kesulitan memahami bayi. Pendidikan pada balita cenderung lebih mudah karena sekarang balita lebih paham dengan konsep hukuman dan hadiah.

Kesehatan punya lingkup yang luas, menjadikan sekolah dokter tidak terbatas pada fisik namun juga gangguan mental. Tanah air Indonesia belum begitu mengenal ragam penyakit mental. Komunikasi yang kurang serta pengaruh dinamis yang cukup kencang hanya menekan tingkat pemahaman mengenai kesehatan mental.  Begitu banyak masalah kesehatan non fisik seperti ADHD (attention deficit hyperactive disorder), autis, depresi, dan sebagainya.

Salah satu gangguan kesehatan mental berbahaya namun tidak dikenal luas adalah dyslexia pada balita. Kondisi dyslexia membuat penderita tidak mampu memahami kosa kata, kesulitan mencocokkan pola, dan berpikir runtut. Tidak, penderita dyslexia bukan berarti bodoh, hanya saja, kekurangan satu ini menghambat kesuksesan di sekolah tanah air yang mana menuntut penghafalan dan ilmu pengetahuan berbasis buku pelajaran.

Menarik garis besar, dyslexia sendiri punya 3 macam. Pertama gangguan dyslexia suara yakni keterbatasan kemampuan balita memahami kosa kata yang didengar, bahkan padu padan suara, jelas musik bukan masa depan anak. Kedua, dyslexia visual membuat penderita tidak mampu memahami corak yang dilihat, bahkan pada banyak kasus, membaca adalah musuh terbesarnya karena padu padan kata seperti cobaan berat.

Dyslexia jenis ketiga merupakan tipe paling ringan namun tetap menganggu disebut dyslexia tulisan. Berbeda dengan dua tipe dyslexia lain, balita masih mampu belajar bahasa dan menggabungkan kata – kata. Satu hal berbeda terletak pada saat menulis, balita tidak akan mampu mengekspreksikan diri lewat tulisan. Penderita tahu apa yang ingin dikatakan hanya saja kesulitan menuliskan kosa kata yang telah tersusun rapi di kepalanya.

Membaca hingga sejauh ini tentu menimbulkan pertanyaan seputar dyslexia. Tenang saja, di usai belia sekalipun dyslexia masih bisa dideteksi selama orang tua punya cara yang tepat. Salah satu langkahnya adalah memahami betul dan perhatikan perilaku anak. Tanpa dua modal tesebut, maaf saja ayah bunda tidak akan mampu mendeteksi penyakit apapun yang menyerang buah hati bahkan dyslexia sekalipun.

Aktivitas untuk balita tentu beragam, peningkatan kemampuan otak mendorong banyak oportunis menyediakan permainan untuk buah hati. Buku dan alat gambar merupakan media bermain paling umum bagi balita. Bagaimana tidak ? menggambar tidak sulit, begitu pula melihat gambar serta menyusun kata. Orang tua juga tidak perlu rempong lari ke sana kemari, cukup duduk manis dan biarkan imajinasi si kecil menari – nari.

Menggambar seharusnya permainan yang disenangi anak. Kreativitas liar yang masih terpendam dalam diri si kecil mampu terlampiaskan lewat coretan gambar. Masalah akan muncul kalau ternyata anak menunjukkan kebencian mendalam pada gambar. Tidak tertarik dan benci adalah dua hal berbeda. Saat anak tidak tertarik, dipaksa sedikit setidaknya mau duduk dan mencoba, sedangkan benci berarti anak bisa masuk mode mengamuk setiap kali dihadapkan dengan media gambar.

Dyslexia visual terutama, yang telah dijelaskan yaitu kesulitan memahami pola gambar secara otomatis bermusuhan dengan apapun yang berhubungan dengan bentuk. Bahkan, buku bergambar yang seharusnya mengajari anak mengenai kosa kata dan hal baru hanya mengundang rasa sedih mendalam bagi si kecil. Bunda dan ayah harus memperhatikan perilaku balita yang cenderung menjauhi buku dan alat gambar.

Batu loncatan dalam pertumbuhan anak adalah berbicara. Seharusnya di usia balita, yakni 5 tahun, statistik menunjukkan pertambahan dua ribu kosa kata. Balita setidaknya mampu untuk berkata ‘bunda pergi ke pasar’ atau ‘hari ini aku ke taman’ dan beragam kata pendek lainnya. Menjawab juga bukan hal sulit bagi balita yang memang tidak punya masalah apapun. Sesi ngobrol adalah sesi yang menyenangkan bagi orang tua dan balita.

Tidak semua balita punya perkembangan yang sama. Dyslexia bisa menghambat anak dalam berbicara. Jangan salah, bukan balita tidak mampu bicara, akan tetapi kosa kata sangat terbatas. Perhatikan berapa kosa kata yang sudah diucapkan, bila balita masih dibawah rata – rata, ayah dan bunda wajib waspada dengan kondisi kesehatan balita. Biasanya gejala makin jelas kala bayi hanya berkata satu sampai dua kata padahal balita sebayanya sudah bisa mengucapkan empat kata dengan makna yang sama.

Masih dalam konteks bicara, perkembangan bayi selanjutnya adalah waktu. Balita seharusnya sudah bisa membedakan kapan hari berakhir dan kapan dimulai meski si kecil hanya duduk dan guling – guling di rumah saja. Dalam bercerita, balita setidaknya tahu apa itu besok, lebih bagus lagi kalau buah hati bisa menyebutkan minggu kemarin, walau secara matematis tidak sepenuhnya tepat.

Cara termudah memahami apakah balita memang mengidap dyslexia adalah membahas mengenai kejadian di masa lampau. Balita tanpa masalah seharusnya mampu menjawab kapan terakhir kali ke taman, atau terakhir kali sarapan. Tidak perlu yang ekstrem, jawaban tadi pagi sekalipun sudah cukup. Lain dengan penderita dyslexia yang tidak akan paham konsep satu ini.

Memahami sesuatu kadang bisa bikin cemas. Tapi lebih baik tahu dibanding minim pengetahuan dan membahayakan balita. Segera cari bantuan terdekat bila orang tua sadar adanya gangguan kesehatan anak balita seperti dyslexia.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *