Inilah Tahap Perkembangan Anak Yang Berhubungan Dengan Emosinya!

kapan bayi bisa dudukTahap perkembangan anak umumnya saling berkaitan dengan banyak faktor. Psikis, fisik serta sosial adalah faktor penentu yang memicu suasana hati anak. Masing-masing memiliki keterikatan yang baik, bahkan menentukan karakter anak ketika dewasa nanti.

Suasana hati anak masih belum terkendali. Ini dilihat dari usia anak. Semakin bertambahnya usia anak, maka anak sudah mampu mengendalikannya. Tentunya ketika anak sudah memahami mana yang baik dan buruk.

Terlepas dari keadaan tersebut, suasana hati anak memang harus dijaga. Jangan sampai emosinya meledak-ledak yang mengakibatkannya menjadi seseorang yang pemarah. Ini keadaan yang kurang baik. Oleh karenanya, orang tua harus menjaga sekaligus mendidik anak tentang bagaimana caranya mengendalikan emosinya.

Apakah Anak Usia Dini Juga Bisa Emosi?

Tumbuh kembang anak memang akan berjalan sesuai waktunya. Usia semakin tinggi membuatnya bisa memahami berbagai hal. Perasaan senang sampai kecewa juga akan dirasakannya. Hasilnya, anak juga bisa melakukan berbagai hal untuk menunjukkan perasaannya.

Perasaan anak sebenarnya bisa dipahami oleh orang tua. Anak bisa menunjukkan kebahagiaannya dengan memberikan senyum lebar di wajahnya. Sebaliknya, anak juga bisa menunjukkan kekecewaannya dengan raut wajah yang cemberut dan lain sebagainya.

Perasaan seperti ini sudah mulai muncul ketika anak masih berusia 2 tahunan. Setidaknya, perkembangan emosi anak sudah bisa dikenali lebih jauh. Ibu bisa memperhatikannya dengan jelas.

Tahapan Perkembangan Emosi Si Kecil Sesuai Umur

Anak sudah bisa mengungkapkan kebahagiaan dan kekecewaannya dengan sebuah tindakan. Tindakan ini merujuk pada setuju atau menolak mengenai apa yang dilakukan oleh orang tuannya untuk anak.

Dan perlu diketahui jika anak tidak boleh banyak dilarang. Karena pelarangan terhadap sesuatu akan membuat anak cenderung tidak penurut. Semakin dewasa, anak akan mulai menjauh dengan orang tuanya. Bahkan bisa cenderung menjadi anak yang pemarah.

Kembali pada emosi anak, anak di usia tertentu akan mengalami berbagai suasana. Kadang keadaan ini akan membuat jengkel orang tuanya. Contohnya anak belum bisa diberikan pengertian sama sekali. Untuk memperjelasnya, mari perhatikan bentuk emosi anak sesuai usianya di bawah ini.

  • Anak belum bisa mengendalikan emosinya

Tahap perkembangan emosi anak pertama kalinya adalah anak belum mampu mengendalikan suasana hatinya. Ini terjadi ketika anak masih berusia 2 tahunan. Ini berlaku pula ketika anak masih belum sampai usia tersebut.

Suasana hatinya masih dipenuhi rasa ingin mendapatkan sesuatu. Apapun keinginannya harus bisa dipenuhi oleh orang tuanya. Misalnya meminta sesuatu, anak cenderung akan terus memintanya.

Ketika orang tuanya tidak bisa menurutinya, anak akan cenderung memaksa. Bahkan bila belum terwujud, anak akan terus melakukannya, bahkan marah dengan keadaannya.

  • Anak mulai mampu memahami orang lain

Kemampuan anak dalam mengendalikan diri sudah mulai terlihat. Khususnya ketika anak sudah menginjak usia 3 tahunan. Anak sudah bisa bertoleransi terhadap orang lain.

Keinginan untuk memaksa mendapatkan sesuatu sudah mulai bisa dibatasi. Namun tetap saja, ada waktu dimana anak juga masih sangat menginginkannya. Oleh karenanya, berilah kebahagiaan sebagaimana mestinya.

  • Anak suka dengan kejutan baru

Tahap perkembangan emosi anak usia dini selalu berkembang. Ketika mencapai usia 4 tahun, anak sudah cenderung bisa diajak bercanda. Anak mulai menyukai hal-hal baru, bahkan kejutan-kejutan yang dianggap spesial dalam hidupnya.

Sebaliknya, anak juga bisa meledakkan emosinya ketika marah. Tak heran jika anak bisa saja terlihat marah besar dengan tindakan ataupun perkataan dengan nada tinggi.

  • Kematangan emosi anak

Ketika menginjak usia 5-6 tahun, emosi anak sudah mulai matang. Tahapan emosi anak 0-6 tahun ini sudah mulai terlihat baik di usia tersebut. Kematangan dalam berfikir dan menganalisa mana yang baik dan buruk menjadi kuncinya.

Anak sudah bisa memikirkan hal tersebut. Namun harus dipahami jika perubahan suasana hatinya juga sangat cepat. Terkadang suasana bahagia bisa langsung berubah kecewa ataupun marah. Ini disebabkan oleh kondisi lingkungannya.

Apa Yang Harus Dilakukan Orang Tua Untuk Menjaga Emosi Anak?

Sungguh peranan orang tua sangat dibutuhkan. Kecerdasan dalam mengendalikan emosi anak wajib diperhatikan. Jika tidak, kebiasaan buruk akan dibawanya setelah dewasa nanti.

Ada beberapa hal yang bisa orang tua lakukan untuk membentuk kepribadian anak yang baik. Tentunya harapan tersebut berkaitan langsung dengan bagaimana cara mengendalikan suasana hatinya. Seperti apa itu?

  • Tidak melulu menolak apa yang diinginkan anak

Penolakan hanya akan membuat suasana hati anak menjadi kacau. Terlalu sering menolak keinginan akan akan membuat anak cenderung tidak bisa mengendalikan emosinya. Bahkan ini bisa dipendam, dan suatu saat akan meledak dengan sendirinya.

Meledaknya amarah hanya akan membuat situasinya menjadi lebih rumit. Anak tidak mudah untuk dihentikan. Bahkan bisa bertindak kasar seperti membanting barang dan lain sebagainya.

Supaya perkembangan emosional anak baik, caranya adalah dengan sesekali menuruti apa yang menjadi keinginannya. Ketika anak masih usia 2 tahunan, orang tua perlu lebih inten dalam memberikan apa yang diinginkan. Tentunya dengan catatan kalau keinginannya itu baik.

  • Berikan pemahaman mengenai segala sesuatu

Memberikan pemahaman mengenai baik buruknya sesuatu yang akan dikerjakan anak adalah kuncinya. Setidaknya, anak akan mulai berfikir lantaran kecerdasan otaknya juga mulai meningkat seusia usianya.

  • Selalu dengarkan apa yang menjadi keluhan anak

Kadang anak akan mengeluh dan mengadu pada orang tuanya. Kondisi ini harusnya dimanfaatkan oleh orang tua. Tetap dengarkan dan berikan perhatian lebih sambil ajarkan kebaikan di dalamnya. Maka, anak akan bisa menerima dan keluhannya bisa hilang.

Kesimpulannya, suasana hati anak bisa berubah dengan sangat cepat. Kehadiran orang tua dalam setiap suasana membuat anak lebih nyaman. Oleh karenanya, damping selalu anak agar tahap perkembangan anak seputar emosinya bisa lebih baik.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *