Kemampuan Kognitif Anak Menurut Jean Piaget Itu Seperti Apa?

4 kategori tahap perkembangan anak

www.friso.co.id

Teori tentang kemampuan kognitif anak menurut piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan mengiterprestasikan obyek dan kejadian-kejadian di sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri – ciri dan fungsi dari beberapa objek, seperti mainan, perabot dan makanan, serta objek-objek sosial seperti diri, orang tua, teman. Bagaimana cara anak belajar mengelompokkan objek-objek untuk mengetahui berbagai persamaan dan perbedaan-perbedaannya.

Untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek atau peristiwa-peristiwa, dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif didalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi walaupun proses berfikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasikan oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga berperan aktif dalam menginterprestasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman.

Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini

Menurut piaget, pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap atau periode-periode yang terus bertambah kompleks. Piaget juga menyakini bahwa pemikiran seorang anak berkembang melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga masa dewasa. Kemampuan bayi melalui tahap-tahap tersebut bersumber dari tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi serta adanya pengorganisasian strukur berfikir. Tahap-tahap pemikiran ini secara kualitatif berbeda pada setiap individu.

Demikian juga, corak pemikiran seorang anak pada satu tahap berbeda dari corak pemikirannya pada tahap lain. Tahap-tahap perkembangan pemikiran ini dibedakan piaget atas 4 tahap, yaitu tahap pemikiran sensoris-motorik , praoperasioanal, operasional kongkret, dan operasional formal. Akan tetapi, piaget tidak menetapkan secara tegas batasan-batasan umur pada masing – masing tahap.  Tahap sensorik dan motorik berlangsung dari kelahiran hingga sekitar usia 2 tahun.

Selama tahap ini, perkembangan mental ditandai dengan kemajuan pesat dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi melalui gerakan dan tindakan – tindakan fisik. Dalam hal ini, bayi yang baru lahir bukan saja menerima secara pasif rangsangan-rangsangan terhadap berbagai alat indranya, melainkan juga aktif memberikan respons terhadap rangsangan tersebut, yakini melalui gerak reflek. Dengan berfungsinya alat – alat indra serta kemampuan melakukan gerakan motorik dalam bentuk refleks, bayi berada dalam keadaan siap untuk mengadakan hubungsn dengan dunia sekitarnya.

Jadi, pada permulaan tahap sensorik dan motorik, bayi memiliki lebih dari sekedar refleks yang digunakan untuk mengkoordinasikan pikirikan dengan tindakan. Pada akhir tahap ini, ketika anak berusia sekitar 2 tahun, pola – pola sensorik dan motoriknya semakin kompleks dan mulai mengadopsi sesuai sistem simbol yang primitif. Misalnya, anak usia 2 tahun dapat membayangkan sebuah mainan dan memanipulasinya dengan tangannya sebelum mainan tersebut benar- benar ada.

Kemampuan Kognitif Anak Usia SD

Seiring dengan meningkatnya kemampuan anak untuk mengekspolrasi lingkungan, karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik yang disertai dengan meningkatnya kemampuan untuk bertanya dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengrti orang lain, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif. Imajinasi anak-anak pra-sekolah terus bekerja, dan daya serap mentalnya tentang dunia makin meningkatnya.

Peningkatan pengertian anak tentang orang, benda dan situasi baru diasosiasikan dengan arti-arti yang di pelajari selama masa bayi. Sesuai dengan teori kognitif piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap praoperasional, yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis.

Tetapi,  pra dalam istilah pra-operasional, menunjukan bahwa pada tahap ini teori piaget difokuskan pada keterbatasan pemikiran anak. Istilah operasional menunjukan pada aktifitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa atau pengalaman yang dialaminya. Pemikiran praoperasional tidak lain adalah suatu masa tunggu yang singkat bagi pemikiran operasional , meskipun kata pra-operasional menekankan bahwa anak pada tahap ini belum berfikir secara operasional.

Operasi sangat terorganisir dan sesuai dengan aturan dan prinsip – prinsip logika tertentu. Operasi tampak dalam bentuk pemikiran operasional konkret dan dalam bentuk lain pemikiran operasional formal. Dalam tahap praoperasoinal, pemikiran masih kacau dan tidak terorganisir dengan baik. Pemikiran praoperasional adalah awal dari kemampuan untuk merekontrusi pada level pemikiran apa yang telah ditetapkan dalam tingkah laku. Pemikiran praoperasional juga mencangkup transisi dari penggunaan simbol – simbol primitif kepada yang lebih maju.

Secara garis besarnya pemikiran praoperasional dapat dibagi ke dalam dua subtahap, yaitu subtahap prakonseptual dan subtahap pemikiran intuitif. Ditinjau dari perspektif teori kognitif piaget, maka pemikiran masa remaja telah mencapai tahap pemikiran operasional, yakni suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 sampai 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa.

Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis. Pada masa ini, anak sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi sesuatu yang abstrak. Di samping itu, pada tahap ini remaja juga sudah mampu berpikir secara sistematis, mampu memikirkan semua kemungkinan secara sistematis untuk memecahkan suatu permasalahan.

Sebuah mobil yang tiba-tiba mogok misalnya, bagi anak yang berada pada tahap kongkrit operasional segera diambil kesimpulan bahwa bensinnya habis. Ia hanya menghubungkan sebab-akibat dalam satu rangkaian saja. Lain halnya dengan remaja, ia bisa mimikirkan beberapa kemungkinan yang menyebabkan mobil itu mogok, seperti mungkin businya mati, mungkin platinanya atau kemungkinan-kemungkinan lain yang memberikan dasar bagi pemikirannya. Seperti itu lah tahap kemampuan kognitif anak, Bun.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *