Kenali Alergi Makanan Untuk Balita

makanan untuk balita

Source: Livestrong

Orang tua manapun pasti ingin si kecil tumbuh dewasa dengan badan sehat dan otak yang cerdas. Inilah kenapa, makanan untuk balita sebagai salah satu faktor penting bagi tumbuh kembang si kecil menjadi pusat perhatian. Beragam sumber informasi baik dalam bentuk literasi seperi artikel majalah, sampai hasil pencarian google, ataupun sekedar diskusi bersama teman-teman sesama orang tua dijelahi dengan sangat detil guna menemukan jawaban memuaskan.

Makanan sehat untuk si kecil sebetulnya ada sangat banyak, tak lupa langkah mengolah bahan benar-benar ditekankan. Sayangnya, kadang ayah bunda lupa setiap anak punya kondisi tubuh berbeda satu sama lain. Hal yang bermanfaat bagi satu anak belum tentu memberi dampak yang sama dengan buah hati. Bahkan, makanan yang paling dianggap super sekalipun tidak menutup kemungkinan bisa timbulkan hal tak diinginkan seperti alergi pada balita.

Ilmu kesehatan nyaris tidak mungkin kehabisan bahan. Tubuh manusia yang sangat dinamis, atau bisa dibilang selalu berubah-rubah buat peneliti selalu punya topik pembahasan. Balita, sebagai level pertama perkembangan manusia sangat wajar untuk dipelajari lebih lanjut. Apalagi, mereka yang punya kondisi tertentu dalam proses cerna beberapa jenis makanan tertentu.

Bahan makanan yang paling populer untuk diberikan terletak pada telur. Siapa sih, yang tidak pernah mendengar telur?

Medium ayam untuk berkembang biak ini tergolong makanan yang paling mudah diperoleh. Harganya sangat terjangkau mengingat ayam betina siap bertelur nyaris setiap hari ketika beranjak dewasa. Bahkan, telur ayam tidak selalu berasal dari pembuahan pejantan dan cukup tahan lama dalam suhu yang pas. Inilah mengapa distribusi ayam begitu luas.

Sudut pandang bisnis juga menguntungkan, sebab biaya merawat ayam tidak seberapa. Untuk ukuran produk massal, telur ayam bisa bikin ngiler para pencari uang. Apalagi fakta bahwa telur ayam sangat fleksibel dan mampu digabung dengan bahan apapun membuat produk satu ini menarik minat pembeli. Ambil contoh saja, mulai dari kue yang dipanggang, sampai dengan makanan sederhana seperti telur goreng, produk satu ini bisa digunakan. Apakah perlu menyebutkan kembali telur tidak gampang basi?

Protein yang terkandung dalam telur ayam membuat pecinta gaya hidup sehat harus ‘angkat topi’. Bagi balita sekalipun, seluruh bagian telur hewan dua kaki ini bisa membantu pertumbuhannya. Protein bertugas menyusun sel, inilah mengapa orang yang kekuranga protein cenderung gampang mengalami patah kuku, dan rambut rontok. Tentu kedua hal tersebut tak diinginkan ketika anak masih berusia sangat muda.

Orang-orang kebanyakan menjauhi kuning telur. Ya, kuning telur memang sumber lemak, tapi bukan berarti lemak tersebut tak diperlukan. Sama dengan alpukat, lemak pada kuning telur tergolong lemak baik yang dibutuhkan untuk si kecil. Lain cerita dengan orang dewasa yang tidak membutuhkan lemak sebanyak anak-anak. Intinya telur dari beragam sudut pandang, sangat bermanfaat bagi si kecil.

Di paragraf awal sudah dijelaskan, tubuh anak berbeda-beda. Mendengar penjelasan mengenai untungnya makan telur ayam, ayah bunda mungkin saja terkesima. Fakta menunjukkan tidak semua anak bisa menikmati telur, baik dari segi rasa maupun kandungan. Alergi telur pada balita tidak sekedar bercandaan namun fakta akurat yang sulit terbantahkan.

Penelitian terkini menunjukkan beberapa balita menunjukkan gejala tidak nyaman saat konsumsi telur. Rasa tidak nyaman tersebut bukan didasari perasaan benci terhadap rasa telur. Anak bisa saja sangat senang konsumsi telur, sayangnya tubuh si kecil berkata lain. Inilah mengapa orang tua perlu kenali alergi unik satu ini.

Daya tahan tubuh yang agak unik kerap jadi pemicu utama alergi pada telur. Maksud dari unik adalah sistem pertahan tubuh tergolong sensitive dan bereaksi dalam konteks yang tidak baik pada putih telur. Menurut tubuh penderita, protein yang seharusnya jadi sahabat terlihat bagai musuh.

Namanya juga tubuh tidak mampu mengenali protein yang berasal dari telur, maka ilmu pengetahuan sekalipun tak didengar, yang penting pokoknya protein dituduh punya niat jahat. Otomatis, pertahanan tubuh sebagai gerbang utama mengirimkan pasukan terbaiknya untuk membasmi protein. Gampangnya alergi ini merupakan bentuk salah paham antara tubuh dengan realita.

Untung saja, tubuh kalau sakit tidak langsung ‘ngambek’ alias berhenti kerja melainkan memberikan tanda-tanda tertentu. Alergi pada telur juga demikian, gejala-gejala akan muncul ke permukaan mencoba menyadarkan orang tua. Tinggal bagaimana kesiapan bunda untuk menyadari pesan yang disampaikan tubuh.

Lapisan terluar tubuh adalah kulit. Kalau badan adalah rumah, maka kulit merupakan pagar rumah atau pintu depan. Kondisi di dalam rumah umumnya terlihat dari bagian depan, sama pula dengan tubuh. Kalau kimia pelawan protein dalam telur mulai bertugas, kulit otomatis memerah walaupun tidak terlihat jelas, lamban tapi pasti kulit bisa capai tahap bengkak.

Tidak hanya kulit yang bisa memberi sinyal, beberapa organ tubuh juga mampu. Hidung, sampai dengan perut akan berjuang guna mengingatkan orang sekeliling ada yang tidak beres. Balita bisa mendadak pilek, sampai dengan kesulitan bernafas dan sakit perut usai makan telur. Tapi jangan salah tangkap dengan keracunan makanan kalau sekedar sakit perut, ya.

Orang tua yang mengetahui anaknya mengidap alergi telur wajar untuk cemas. Tapi, bagi ayah bunda yang belum tahu pasti, alergi telur tergolong langka, jangan buru-buru diagnose sendiri. Kalaupun memang benar terjadi, rata-rata alergi makanan balita satu ini akan hilang dengan sendirinya pada ulang tahun ketujuh belas.

Untuk cemilan, ayah bunda tidak perlu selalu memberikan coklat dan kue. Orang tua bisa mencoba deh finger foods sehat untuk membiasakan anak makan sehat.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *