Kenali Ciri Dari Anak Kurang Gizi Dan Cara Mengatasinya

gizi balita

Image Source: Bestchinanews

Anak kurang gizi tidak bisa dianggap enteng. Kekurangan gizi membuat pertumbuhan terganggu. Malahan, anak akan sulit untuk bertahan hidup.

Unsur terpenting dalam mendukung pertumbuhan bayi adalah gizi/nutrisi. Nutrisi sangat diperlukan semenjak bayi dilahirkan. Nutrisi demikian didapatkan dari asi ekslusif.

Bertambahnya usia bayi membuat asi tidak lagi dimanfaatkan. Makanan lain diperlukan untuk mendukung perkembangannya. Ibu yang cerdas selalu memperhatikan kebutuhan gizi buah hatinya.

Gizi yang baik tidak hanya untuk pertumbuhan tubuhnya seperti menjaga berat sampai tingginya. Namun juga berguna untuk perkembangan otaknya. Hasilnya, kecerdasan bayi semakin meningkat akibat dari perkembangan jaringan otak yang semakin bagus.

Masalahnya, kadang ada saja kasus dimana bayi kekurangan gizi. Kurangnya gizi ini mempengaruhi kehidupan bayi. Seperti apa tandanya, dan apa saja penyebabnya? Kami akan ulas bersamaan dengan cara menanganinya pada ulasan di bawah ini!

Tanda Bayi Mengalami Kekurangan Gizi

Publikasi mengenai bayi yang kekurangan gizi sebenarnya sudah banyak. Khususnya ketika ibu melihat ke masyarakat afrika. Banyak kasus dimana anak-anak menderita gizi buruk.

Tanda yang muncul ketika bayi mengalami gizi buruk adalah tubuhnya sangat kurus. Kemudian, mata cenderung cekung, dan pertumbuhannya tidaklah normal seperti kebanyakan anak.

Permasalahan yang muncul akibat gizi buruk adalah kerentanan dalam terserang penyakit. Penyakit ini yang kemudian bisa membuat anak tidak mampu bertahan hidup. Akibatnya, kasus kematian akibat gizi buruk adalah konsekuensinya.

Menurut ahli gizi Dr. Sri Kurniati M.S (ahli gizi RS. Anak dan Bersalin Harapan Kita), tanda kekurangan gizi bisa dilihat dari berat badannya. Ini dipicu oleh kekurangan asupan protein di dalam tubuhnya. Ahli gizi tersebut juga membagi kekurangan gizi menjadi 3 bagian.

  • Kekurangan protein ringan

Kekurangan protein ini bisa dilihat dari berat badan anak yang cenderung minim. Untuk kasus yang ringan, berat badan anak hanya mencapai 80% dari berat badan seharusnya di usia tertentu.

  • Kekurangan protein sedang

Untuk kasus yang sedang, berat badan hanya mencapai 70% dari berat badan yang seharusnya. Anak yang menderita gizi buruk ringan ini ditandai dengan pucatnya wajah. Kemudian, tanda lainnya adalah perubahan warna rambut yang menjadi lebih merah.

  • Kekurangan protein parah

Ciri2 anak kurang gizi yang tergolong berat adalah bila berat badannya hanya sampai 60%.  Tentu, ini dikategorikan sebagai tubuh yang sangat kurus. Tanda lainnya adalah pembengkakan pada kaki, rambut memerah dan mudah dicabut.

Kondisi terparah tentunya dengan ditandainya ada penyakit yang mengikutinya. Diantaranya adalah infeksi, serta anemia dan lain sebagainya.

Penyebab Anak Menderita Gizi Buruk

Kasus gizi buruk biasanya terjadi pada keluarga miskin. Kebutuhan akan makanan tidak bisa dicukupi dengan baik. Akibatnya, pertumbuhan anak yang memerlukan nutrisi dari makanan tidak optimal.

Selain disebabkan oleh faktor kemiskinan, penyebab gizi buruk adalah seringnya anak mengalami berbagai masalah kesehatan. Entah itu penyakit akibat perubahan cuaca ataupun saki bawaan. Sakit anak ini membuat anak enggan untuk mengkonsumsi makanan.

Sementara penyebab lainnya adalah lingkungan yang kurang sehat. Lingkungan punya pengaruh pada kesehatan. Lingkungan yang tidak bersih membuat apa yang ada di sekitarnya ditumpuki oleh bakteri ataupun virus.

Bakteri dan virus inilah yang memunculkan berbagai penyakit. Anak yang terserang penyakit akan mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh. Akibat dari sakit, anak akan sulit untuk mengkonsumsi makanan.

Inti dari penyebab mengapa kurang gizi pada balita terjadi lantaran bayi tidak memperoleh asupan yang cukup untuk kebutuhan hariannya. Entah itu makanan yang dikonsumsi tidak sehat, atau bayinya yang enggan untuk makan. Oleh karenanya, bayi menderita masalah gizi buruk.

Cara Menangani Masalah Gizi Buruk Pada Anak

Resiko gizi buruk memang sangat parah. Selain membuat anak rentan terhadap penyakit berbahaya, anak juga akan kehilangan nyawanya. Jadi, anak tidak bisa tumbuh sampai dewasa.

Ketika gizi buruk terjadi misalnya dengan memeriksa berat tubuhnya yang tidak normal, ibu bisa melakukan penanganan dengan segera. Jangan menunggu sampai kondisinya menjadi lebih parah. Cara penanganannya adalah sebagai berikut.

  • Berikan makanan yang mengandung protein

Menu sehat untuk anak kurang gizi pertama adalah makanan kaya akan protein. Jenis makanan ini akan menjadi solusi terbaik untuk mengembalikan efektifitas tubuh dalam menunjang berat badan. Pembentukan otot akan dilakukan secara optimal bila protein dipenuhi.

  • Berikan makanan mengandung kalori

Makanan mengandung kalori juga harus ditingkatkan. Makanan seperti ini akan membuat tubuh menjadi lebih bertenaga. Malahan, ini bisa meminimalkan pengambilan lemak di dalam tubuh sebagai sumber energi.

  • Berikan makanan mengandung vitamin C dan D

Vitamin dibutuhkan tubuh anak untuk menangkal penyakit. Kedua jenis vitamin ini akan membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih baik. Tidak salah jika anak dengan kekurangan gizi disarankan untuk memenuhinya.

Selain itu, solusi gizi buruk yang bisa ibu manfaatkan adalah melengkapi makanan yang mengandung vitamin A. Vitamin ini akan bantu anak dalam menjaga kesehatan matanya.

Makanan-makanan dengan kandungan protein, kalori dan vitamin sebaiknya ditingkatkan. Selebihnya, ibu bisa memenuhi kebutuhan gizi lain sesuai takaran.

Dalam mengatur pemberian makanan pada buah hati, perhatikan jika ibu selalu memberikan makanan berapa kali dalam sehari. Pastikan juga kualitas dan kuantitasnya, dan waktu memberikan makanan. Karena semua ini akan menentukan tercukupinya gizi anak.

Kesimpulannya, kasus gizi buruk tidak akan terjadi bila ibu selalu memenuhi asupan makanan pada buah hatinya. Jadi, cukupkan kebutuhan bayi supaya anak kurang gizi bukan menjadi kendala ibu lagi.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *