Kesalahan Yang Membuat Program Toilet Training Gagal

Banyak permasalahan yang akan ibu hadapi dalam proses perkembangan balita. Dan saat yang paling sulit adalah ketika ibu harus mengajari toilet training.

Ibu bisa saja mencari tips toilet training. Namun, menerapkan tips tidak semudah teori yang ibu baca. Ibu bisa saja menyiapkan apa saja yang dibutuhkan mulai dari toilet training pants hingga memasang toilet lucu khusus untuk si kecil. Tapi, jika hasilnya nol besar, mungkin ibu melakukan beberapa kesalahan berikut ini.

  • Waktu Yang Kurang Tepat

Sebaiknya ibu mencaritahu pada usia berapakah anak bisa mulai diajari toilet training? Ini menjadi bahan perdebatan di forum ibu dan balita. Banyak orang yang berselisih atau berbeda pendapat. Ada balita yang baru berusia 1 tahun sudah bisa buang air kecil di toilet. Meskipun belum bisa bicara, si kecil selalu mengisyarakat dan mengajak orang tuanya untuk ditemani ke kamar kecil.

Namun, ada juga orang tua yang menyarankan agar toilet training baru bisa dimulai ketika anak sudah siap. Yang dimaksud dengan siap ini adalah siap dalam hal fisik. Ia sudah bisa jongkok sendiri. Ia juga sudah bisa berbicara sehingga kapanpun ingin buang air kecil atau buang air besar, anak bisa memberitahu orang tua.

Lalu, bagaimana dengan pendapat ahli perkembangan anak?

Memang jika toilet training dilakukan terlalu dini, maka hal tersebut akan sia-sia. Bahkan, bisa juga anak menjadi takut untuk diajak ke toilet. Menurut ahli perkembangan anak, proses perkembangan anak yang satu ini memerlukan fisik dan mental yang sudah siap. Setidaknya, balita usia 1,5 tahun sudah bisa diajari toilet training. Pasalnya, balita usia 1,5 tahun sudah bisa berbicara dan secara fisik sudah kuat.

Hanya saja, hal ini biasanya baru berhasil dilakukan ketika usia balita sudah 2 tahun. Yang pasti, toilet training pada anak sebaiknya dimulai ketika balita 1,5 tahun. Dan diharapkan ketika usia 2 tahun, ia tidak lagi menggunakan popok.

  • Memaksa

Sering kali ibu akhirnya harus memaksa si kecil untuk buang air kecil di kamar mandi. Mungkin ibu merasa sudah saatnya si kecil buang air kecil. Umumnya, balita buang air kecil setiap 1 atu 1,5 jam sekali. Dan atas dasar itu, ibu akan mengajak si kecil ke kamar mandi.

Sayangnya, bagi anak, itu bisa jadi sebagai bentuk pemaksaan. Dan inilah yang menjadi faktor penyebab kegagalan cara mengajarkan toilet training.

Sebaiknya ibu membiarkan anak dengan sendirinya ke kamar mandi. Ibu bisa menanyakan apakah ia ingin buang air kecil atau tidak. Jangan memaksa.

Selain itu, ada baiknya ibu mendesain kamar mandi sebagus mungkin agar anak dengan senang hati mau ke kamar mandi. Tak jarang balita suka bermain shower yang lucu. Maka ibu bisa pasang shower lucu yang bisa digunakan untuk membersihkan alat kelamin anak setelah buang air kecil.

  • Masih Sering Menggunakan Popok

Terkadang orang tua tidak mau ambil resiko. Walaupun sudah menerapkan toilet training dengan tidak lagi memakaikan popok, terkadang orang tua memakaikan popok pada momen tertentu seperti ketika keluar rumah atau ketika tidur.

Apa yang terjadi? Ketika anak memakai popok, ia akan lupa bawasannya ia harus pergi ke toilet jika ingin buang air kecil. Lain hal jika ibu secara konsisten tidak memakaikan popok sehingga kalau si kecil ngompol, ia merasa tidak nyaman dan akhirnya dengan sendirinya mau buang air kecil di kamar mandi.

Adakah kesalahan lain yang ibu lakukan saat mengajarkan toilet training kepada anak?

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *