Kondisi Bayi Baru Lahir Harus Diberi Pengganti ASI

susu bayi baru lahir

Inspiring Woman

Bolehkah tidak memberikan ASI dan menggantinya dengan susu bayi baru lahir? Tidak hanya boleh tapi pada kondisi tertentu, keputusan ini harus dilakukan. Dan ini yang tidak banyak diketahui. Umumnya, masyarakat mengerti jika memberikan ASI adalah hal yang wajib untuk dilakukan karena ASI memberikan manfaat bagi pertumbuhan bayi karena mengandung kolostrum yang memberikan imun pertama. Mereka tidak menyadari jika ternyata ASI juga bisa menyebabkan sesuatu hal yang buruk terjadi.

Kapan ASI Tidak Boleh Diberikan?

Ibu pasti sudah tahu jika ASI ibu berikan tergantung pada nutrisi yang ada pada tubuh. Dan begitu pula dengan penyakit yang ibu alami. Yang dikhawatirkan adalah ibu terkena penyakit yang menular sehingga bayi yang ibu susui tertular melalui ASI yang ibu berikan.

Pada kondisi inilah sufor untuk bayi baru lahir perlu diberikan sebagai pengganti ASI. Pasalnya, memberikan ASI kepada bayi berarti menularkan penyakit yang ibu derita kepada sang buah hati.

Oleh sebab itu, dokter sangat menyarankan dan bahkan melarang ibu yang terkena penyakit berikut ini tidak memberikan ASI kepada bayi mereka.

  • Penyakit HIV/AIDS

Salah satu penyakit berbahaya dan mudah sekali penularannya adalah penyakit HIV/AIDS. Penyakit ini bisa menular melalui beberapa hal, tak terkecuali melalui ASI. Walaupun menurut penelitian hanya 15% saja kemungkinan bayi tertular HIV/AIDS yang diderita oleh ibunya, tetap saja dokter sangat tidak menyarankan seorang ibu yang positif HIV/AIDS memberikan ASI.

Resiko bayi terkena HIV/AIDS semakin tinggi jika terjadi luka pada payudara ibu. Hal ini disebabkan virus bisa berpindah melalui darah penderita. Dan resiko bayi terkena HIV naik menjadi 65%. Dengan alasan inilah seorang ibu sebaiknya memberikan susu untuk bayi baru lahir, sebagai pengganti ASI.

  • Ibu Dengan Penyakit Hepatitis B

Selain HIV/AIDS, ada juga penyakit penular lainnya yang membuat seorang ibu sebaiknya tidak memberikan ASI kepada bayi, yaitu hepatitis B. Memang resiko tertular sangat rendah namun bagaimana pun juga hal buruk harus diantisipasi.

Sebenarnya ada cara seorang ibu dengan penyakit hepatitis B tetap bisa memberikan ASI. Yaitu ketika masih dalam masa kehamilan, ibu tersebut mendapatkan penanganan khusus untuk mengobati penyakit tersebut. Dengan demikian, bayi ketika masih ada di dalam rahim 80%-90% sudah mendapatkan pengobatan yang sama sehingga tidak masalah jika bayi mendapatkan ASI langsung dari ibunya.

Yang pasti, karena ada faktor resiko tertular, dokter mengambil sebuah keputusan untuk menyarankan agar seorang ibu tidak memberikan ASI kepada bayinya. Sebagai pengganti ASI, ibu tersebut bisa memberikan susu untuk bayi yang baru lahir.

Agar Ibu Terkena HIV Bisa Tetap Menyusui

Karena pentingnya ASI untuk perkembangan bayi yang baru lahir, maka para ahli kesehatan berusaha sebisa mungkin agar tidak ada halangan yang bisa membuat seorang ibu tidak boleh memberikan ASI. Tak terkecuali halangan berupa penyakit HIV.

Dan sudah ditemukan cara agar seorang penderita HIV tetap bisa memberikan ASI kepada bayi yang baru ia lahirkan.

  1. Ibu penderita HIV harus minum obat ARV 100% selama 6 bulan sebelum melahirkan
  2. Tidak terdeteksi adanya viral load
  3. Bayi mendapatkan profilaksis setidaknya selama 6 minggu

Tiga hal tersebut penting untuk dilakukan agar penderita tetap bisa memberikan ASI. Selain itu, perlu diperhatikan juga bagaimana memberikan ASI yang benar. Jangan sampai pemberian ASI salah sehingga membuat puting ibu berdarah. Ini sangat berbahaya karena virus bisa masuk ke dalam tubuh si kecil melalui darah yang ia hisap.

Akan tetapi, jika tidak yakin bisa melakukan hal tersebut, cara yang paling aman adalah dengan memberikan susu bayi 0-6 bulan.

Memahami Lebih Jauh Tentang Susu Bayi Baru Lahir

Apakah ibu pernah bertanya kenapa ada susu berdasarkan usia bayi? Ada yang susu untuk bayi usia 0-6 bulan, 6-12 bulan, dan susu balita 1-5 bulan? Hal ini disebabkan setiap kandungan susu berbeda. Kandungan di setiap susu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi sesuai usia sang buah hati ibu.

Lalu, bagaimana dengan susu untuk bayi yang baru lahir? Biasanya harga susu formula untuk bayi yang baru lahir sangat mahal. Ini disebabkan memang susu ini sangat istimewa. Susu ini dibuat dan diformulasikan sehingga hampir sama dengan ASI. Dengan demikian, bayi bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal layaknya bayi yang mendapatkan ASI.

Hanya saja, tetap tidak ada yang bisa menandingi ASI sekalipun ibu memberikan susu untuk bayi baru lahir yang terbaik. Tidak ada kandungan antibodi di dalam susu untuk bayi baru lahir. Dan ini yang membedakan antara susu dengan ASI. Di dalam ASI terdapat antibodi yang dibutuhkan agar bayi tidak mudah sakit.

Dalam perkembangannya, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif jarang sekali terkena penyakit. Hal ini disebabkan antibodi di dalam tubuhnya sangat banyak sehingga tubuh bayi bisa mengatasi serangan bakteri atau virus yang menyerang.

Lain hal dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI. Selain perkembangannya bisa terganggu, ia juga lebih rentan terhadap penyakit

Beruntung sekali bagi siapa saja yang bisa memberikan ASI. Itulah mengapa sebaiknya selama masa kehamilan, seorang ibu selalu konsultasi dengan dokter agar bisa menjaga kesahatan. Jika ternyata terjadi masalah, semoga saja masalah tersebut bisa teratasi sehingga ketika bayi lahir ibu bisa memberikan ASI.

Namun, jika ibu terkena penyakit menular, sepertinya tidak ada cara yang paling tepat dan bijak selain memberikan susu bayi baru lahir sebagai pengganti ASI.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *