Maksimalisasi Perkembangan Psikologi Balita, Ayah Dan Bunda Harus Tahu!

perkembangan psikologi balita

parentingclub.co.id

Pertumbuhan seorang balita tidak hanya berhenti dari segi fisik saja. Sebagai mahluk hidup, jiwa menjadi pengontrol raga dan bukan sebaliknya. Perkembangan psikologi balita sebaiknya dipahami sejak dini. Tubuh sehat, bergelimang harta, tidak ada gunanya jika hati tak bahagia.

Indonesia belum memiliki fasilitas kesehatan mental yang mudah di akses siapa saja. Padahal, kesehatan mental tidak melulu gila, terkadang tak ada gangguan mental sekalipun layak diperiksakan supaya lebih mudah dicegah bila ada gejala yang tak diinginkan. Secara ilmiah, tidak ada serangan penyakit yang mengenal usia, orang tua hanya bisa memberikan yang terbaik.

Masing – masing individu punya karakter beragam, sehingga tidak semua perkembangan bisa di samakan. Ilmu pengambilan rata – rata bertujuan menemukan keseragaman dalam keragaman, gampangnya semua orang pasti memiliki unsur yang sama. Sejauh ini, pola perkembangan psikologi balita tidak jauh berbeda kecuali balita tersebut memiliki anugrah tersendiri.

Bicara

Selama berbulan – bulan bayi tidak mampu mengungkapkan pendapat dan suaranya. Tidak heran ketika bayi berhasil mengucapkan kata, rasa bangga sebagai bagian dari orang dewasa meliputi dirinya. Kebutuhan bayi didengarkan lebih tinggi dibanding manusia yang sudah tumbuh dewasa.

Pada usia balita tentu kebutuhan berbicara bayi tidak diimbangi dengan kemampuannya menjadikan setiap cerita yang si kecil sampaikan berharga. Kosa kata bayi terbatas pada beberapa kata seperti ‘kamu’, ‘aku’, dan beberapa kata subjek. Cerita yang disampaikan bayi sebetulnya sangat luas dengan bekal imajinasi liar, terkemasa dalam satu kalimat.

Tidak banyak yang bisa bunda ayah lakukan tapi menyimak cerita bayi dan tanggapi dengan ekspreksi. Bayi belum bisa mengenal mikro – ekspreksi atau perubahan raut muka tipis. Kalau bisa ayah dan ibu menanggapi bak aktris teater mengungkapkan emosinya.

Banyak buku pelajaran bersifat mengulang. Kerja otak manusia adalah memasukkan informasi yang ada hari ini dan di evaluasi kembali esoknya. Setiap kali bunda menanggapi perkataan bayi dengan kalimat yang berulang, secara tidak langsung kata tersebut akan tertanam dalam benaknya.

Pola Pikir

Hidup bak bola yang berputar, terjadi sebab akibat pada tiap kejadian. Hasil pemikiran kebanyakan orang disebabkan oleh hal yang dilihat, dengar, dan alami. Pertama kali manusia mulai berpikir dan membuat kesimpulan akan sesuatu ada pada usia 2 dan 3 tahun. Ketajaman pendengaran serta kemampuan lihat yang memadai menjadikan kinerja otak balita sudah mencapai tahap pertama kedewasaan.

Pelajaran pertama dalam hidup seseorang dimulai dari keluarga dan lingkungannya. Ayah dan bunda harus ekstra hati – hati dalam bersikap dan bertutur kata. Kebanyakan bayi akan menerima pendapat yang pertama kali dia dengar, dan membantah sisanya. Contoh saja, anak dengar bahwa naik tangga atau mendekati tangga itu tidak boleh, ketika ada orang dewasa menaiki tangga, anak akan dengan mantap menegur orang dewasa tersebut.

Beberapa anak dengan tingkat kepercayaan diri tinggi akan mengungkapkan pendapat sesuai dengan kesimpulan yang dia buat. Tipe anak pemikir akan memilih untuk diam dan bertanya pada orang dewasa sebagai sumber terpecaya guna memperoleh kesimpulan. Ayah dan bunda harus siap menghadapi karakter balita.

Mandiri

Balita cenderung menikmati masa dimana tubuhnya bekerja sesuai koordinasi yang ia inginkan. Tangan mulai mampu mengenggam, kaki mampu berlari dan mengejar. Selama berbulan – bulan bayi hanya bisa melihat orang dewasa melakukan berbagai macam hal, tanpa bisa mengikuti. Terang saja, bayi langsung ingin mencoba melakukan segalanya sendiri.

Mencuci tangan, mengganti baju, sampai dengan makan menggunakan sendok garpu bukan hal aneh bagi orang dewasa. Bagi balita, kegiatan – kegiatan yang remeh di mata orang dewasa menjadi pencapaian prestasi. Si kecil selalu ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa dan tak membutuhkan bantuan orang dewasa.

Kesalahan terbesar yang banyak dilakukan ayah bunda pada umumnya yakni mencegah balita melakukan sesuatu karena rasa khawatir.  Hitung berapa kali bunda berkata “jangan lakukan itu dek” “awas bahaya, minta tolong mama papa saja” setiap kali balita mencoba melangkah sendiri. Tindakan tersebut bukan bentuk kasih sayang melainkan menghambat pertumbuhan.

Balita yang tidak pernah diberi kesempatan mandiri akan tumbuh dengan karakter bergantung dan tidak percaya diri. Banyak orang kesulitan menemukan rasa percaya diri dan lepas dari ketergantungan hanya karena masa kecilnya tidak diberi kemandirian. Orang tua sangat disarankan mengawasi anak dari jauh tanpa mencegah si kecil melakukan apapun.

Ungkapan

Perasaan merupakan anugrah tuhan sebagai mahluk sosial. Tidak ada manusia yang bisa selamat tanpa bantuan orang lain. Dengan adanya perasaan, kedua belah pihak bisa menyampaikan aspirasi berbasis keuntungan yang diharapkan. Rasa marah, kecewa, dan sedih merupakan bentuk tidak senang akan suatu keadaan, begitu pula dengan rasa senang dimana kondisi sesuai dengan keinginan.

Otak balita mulai mengenal dan mampu merasakan emosi. amukan balita yang meledak sebenarnya bentuk dari rasa tidak senang yang tak mampu terungkap. Terbatasnya kosakata balita membuat ungkapan marah yang mungkin hanya satu dua kata menjadi rentetan omelan yang tidak jelas.

Bangsa Indonesia cukup menyanjung sopan santun. Sehingga, pelatihan tata krama harus dimulai dari kecil. Komunikasikan dengan balita bagaimana mengekspreksikan amarah di jalan yang benar. Tidak perlu membalas teriakan bayi dengan amukan yang sepadan. Perkembangan psikologi balita harus disertai dengan kelembutan orang tua dan perhatian kasih sayang yang tulus.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *