Peran Ortu Mendidik Anak Independen

peran orang tua dalam mendidik anak

Rasa kebergantungan si kecil seolah menjadi bagian dari peran orang tua dalam mendidik anak. Meski terasa capek sekalipun, merasa dibutuhkan oleh anak seperti kepuasan tersendiri dalam hati. Namun, tidak semua anak mengalami masalah yang sama dengan anak lain. Ada beberapa anak yang sangat mandiri. Tidak ada lagi rengekan ketika makan di meja, bahkan di usia belia sekalipun hal kecil seperti berdandan seolah bukan masalah.

Kemungkinan besar anak hanya akan membutuhkan kehadiran anda untuk mengambil barang yang tidak sampai jangkauan tangan, padahal dalam beberapa tahu tubuh anak akan sangat berkembang. Hingga satu titik anda sampai merasa bingung apa peran orang tua dalam mendidik anak independen?

01. Ajari anak tanggung jawab
Tidak ada yang salah dengan berusaha melakukan semuanya sendirian. Meskipun, tidak selamanya solusi yang dikemukakan sendiri akan benar tanpa ada kegagalan. Sebagai contoh saja, anak anda ingin menaruh piring kembali di atas meja. Cara yang dipakai anak memang cukup berbahaya yakni naik keatas kursi, dan berjinjit agar mencapai ujung meja, sayang, anak tidak sadar ada banyak piring sehingga alih alih berhasil malah banyak piring pecah. Kalau sudah begini, reaksi pertama anak akan ketakutan akan rasa bersalah yang menyelimuti anak. Percaya atau tidak, rasa bersalah termasuk salah satu perasaan yang alami muncul dalam diri manusia tanpa ada yang mengajari. Ketika anda datang dan marah besar tentu bisa diduga apa perasaan yang tertanam dalam bawah sadar anak. Melihat orang tuanya begitu murka dan menuduh anak tanpa bertanya hanya membuat anak takut dimarahi bukan takut melakukan kesalahan yang sama.

Sebagai anak yang mandiri, memang ia akan cenderung berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Salah satu peran orang tua dalam mendidik anak mandiri adalah memberikan rasa tanggung jawab pada anak. Tidak selamanya anak melakukan hal benar, kesalahan seolah menjadi bagian pembelajaran dari anak. Ketika anda tahu anak memang melakukan kesalahan, seperti paragraf diatas mengenai piring pecah, anda harusnya tidak langsung marah. Ambil nafas dalam – dalam, dan tanyakan pada anak siapa yang memecahkan piring. Reaksi pertama anak akan diam seribu bahasa karena rasa bersalah makin memuncak. Tetap dorong anak untuk menjawab siapa pelakunya dan yakinkan bahwa ayah dan ibu tidak akan marah. Dengan memberikan dorongan seperti itu kemungkinan besar anak akan mau mengaku. Bagian tanggung jawab anda ajarkan dengan mengajak anak membantu membersihkan kekacauan yang ia buat. Biasanya orang tua hanya menyuruh anak pergi bermain lalu ibu membersihkan padahal bantuan minimal dari anak adalah mengambil sapu dan minta anak melihat anda membersihkan dari jauh.

02. Lindungi anak dari jauh
Maraknya kasus penculikan mulai dari perdagangan anak, sampai pedofilia memang sangat wajar menimbulkan rasa was – was pada orang tua. Padahal, anak yang terlahir dengan karateristik mandiri tidak senang bila orang tua membatasi ruang gerak dalam petualangan. Untung saja, anak anda telah memiliki keberanian dan kecerdasan di atas rata – rata, jadi jangan sampai anda merusak anugrah tuhan ini. Setiap kali anak bermain, awasi saja dari jauh. Mentang – mentang anak sudah biasa bermain di satu tempat, tak jarang ayah bunda lengah dan mengobrol atau bermain hand phone dan gadget. Pelaku kejahatan umumnya mengambil kesempatan pada anak dengan orang tua yang kurag memperhatikan sekitar. Bukan berarti, anda harus melototi anak dari awal bermain hingga akhir, karena bisa menimbulkan rasa tidak nyaman karena otak manusia bisa menyadari bila ada yang mengawasi. Cukup pura – pura cuek dan bermain dengan gadget anda meski mata tetap mengarah pada gerak gerik anak.
Teknologi jaman sekarang sudah serba canggih. Maklum saja, penjahat saja sudah mulai pintar, tentu ahli keamanan harus lebih pintar lagi. Anda mungkin pernah melihat produk pluit yang bisa dibawa kemana – mana oleh si kecil jika sampai ada bahaya. Produk yang paling populer dari Jepang adalah hand phone mini berisi GPS atau pelacak, serta 2 nomor darurat yakni orang tua dan polisi. Kendati demikian produk teknologi cenderung merogoh kocek lebih dalam. Bagi anda yang memilih hemat tentu bukan pilihan menyenangkan. Anda bisa mengajari anak beberapa trik untuk mencegah bahaya seperti jangan mengikuti orang asing tidak dikenal, serta selalu pada bagian terang jalan dan ramai.

03. Teman itu penting
Mandiri memang identik dengan sendiri. Anak anda secara naluri tidak menyenangi kelompok, mengingat dia merasa lebih nyaman bekerja sendiri. Untuk orang tua mungkin anda merasa beban sedikit lebih berkurang, toh anak bisa membereskan segalanya sendiri. Tapi, pada satu titik, kemandirian seseorang tidak menghapus fakta bahwa anak adalah mahluk sosial yang pasti akan membutuhkan teman. Banyak orang menjadi salah jalan, atau malah mengalami stress karena berusaha melakukan segalanya sendiri. Skenario kedua, orang – orang menjadi tidak mau membantu karena merasa tidak diperlukan meskipun semua manusia pasti akan membutuhkan bantuan pada satu titik. Masalahnya adalah, anak dengan tingkat independensi tinggi sangat jarang meminta bantuan, bahkan anak lupa bagaimana cara meminta tolong karena semua bisa dilakukan sendiri. Sebagai orang tua, mulai asah kepekaan anda. Perhatikan kapan anak benar – benar merasa lelah dan sudah mulai muak mencoba menyelesaikan suatu masalah. Peran orang tua dalam mendidik anak sangat penting dalam memberitahu kapan waktu tepat meminta bantuan.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *