Persiapan Menyambut Bayi Baru Lahir Semua Orang Harus Tahu

Cara merawat kulit balita

vemale.com

Bayi belum keluar saja sudah bikin tegang apalagi bayi baru lahir, bisa bikin panik semua orang. Terlepas dari segala tantangan yang ada di depan mata, kehadiran buah hati ayah bunda sudah pasti bikin hati bersuka cita. Alangkah baiknya bila hari yang membahagiakan tersebut tidak rusak akibat persiapan yang tidak matang.

Tipikal orang Indonesia atau bahkan sebagian penduduk dunia adalah menganggap remeh perencanaan. Kepercayaan akan takdir tuhan menimbulkan rasa acuh tak acuh terhadap apa yang akan terjadi di masa depan. Anggapan satu ini tidak bisa dianggap benar namun juga tak bisa dianggap salah. Memang, ada saat dimana rencana melenceng sehingga dibutuhkan spontanitas, maka dari itu lebih baik tidak merencanakan sama sekali.

Akurasi suatu rencana sangat bergantung pada situasi dan kondisi pada momen pelaksaan. Bukan berarti rencana sesuatu yang tabu atau malah diremehkan begitu saja. Justru, dengan adanya rencana rasa bingung yang bisa datangkan kepanikan tidak perlu sangat mungkin diminimalisir. Termasuk dalam menyambut bayi sekalipun persiapan hari bersalin cenderung mempermudah proses pengeluaran buah hati.

“Saya ‘kan sudah bayar dokter, ya itu urusan dia dong” beberapa dari anda mungkin bisa saja berpikir demikian. Harap diingat, dokter juga manusia, bukan tuhan, bukan malaikat pencabut nyawa. Seorang dokter adalah praktisi yang sudah sangat berusaha, merelakan sebagian besar tahun hidupnya untuk mempelajari tubuh manusia. Dedikasi dokter tidak menjamin nyawa manusia, sehingga dokter ternama sekalipun belum tentu selalu berhasil dalam operasi apapun.

Tubuh manusia merupakan anugrah dari yang maha kuasa. Apapun yang terjadi, andalah orang pertama yang bertanggung jawab atas kondisi badan. Dalam konteks kehamilan sekalipun, tidak hanya bunda yang diwajibkan mempersiapkan persalinan namun ayah juga ikut mengemban tanggung jawab yang sama besar.

Bayi disebut pula dengan buah hati, hal ini sangat memperjelas kenapa perkembangan bayi sebelum lahir sekalipun merupakan hasil kerja sama ayah dan bunda. Gampangnya, bikin anak saja rame-rame, masa’ begitu anak lahir ditanggung 1 pihak saja? Tentu ini konsep yang agak aneh.

Komunikasi telah menjadi kunci kesuksesan hubungan antar manusia. Aristoles mengatakan manusia termasuk mahluk sosial, tanpa ada pertukaran pikiran antar kaum adam maupun hawa, keduanya tidak bisa hidup sejahtera. Inilah mengapa, ayah dan bunda butuh meluangkan waktu berdua untuk berdiskusi mengenai beragam hal, termasuk persalinan.

Melahirkan bukan perkara yang selalu mudah. Banyak kasus, bunda harus menghabiskan sekian banyak jam hanya untuk mengeluarkan anak pertama. Rasa sakit yang mungkin saja terasa buat kepala begitu berputar-putar. Semua pengetahuan seolah meluap ke angkasa, dukungan mental jelas diperlukan pada tahap ini. Karena alasan tersebut, ayah bunda harus membentuk kerja sama solid demi kesuksesan di hari persalinan.

Diskusi yang dimaksud disini bukan topik remeh seperti seperti siapa yang nanti memberi nama anak, atau warna dinding kamar bayi nantinya. Melainkan, ayah dan bunda saling terbuka akan ekspektasi di hari persalinan. Bunda harus terus terang dukungan macam apa yang dibutuhkan ketika berada dalam ruang persalinan, dan ayah sebaiknya jujur akan ketakutan tertentu. Misalkan saja bunda ingin ayah mengenggam tangan sampai dengan keluarnya si kecil padahal ayah punya phobia darah, maka harus diputuskan siapa pengganti peran suami tersayang atau malah tetap dilanjutkan.

Bagi orang tua baru, kelahiran bukan kegiatan umum. Pasangan dokter sekalipun, belum tentu tahu dan siap menghadapi tekanan dalam melahirkan buah hati tersayang. Untung saja, anda, sebagai orang tua, bukanlah adam dan hawa yang tidak punya ‘tauladan’. Ada banyak pasangan di luar sana yang lebih dulu melalui suka dukanya hari persalinan.

Pengalaman tidak ternilai harganya, inilah mengapa ayah dan bunda harus minimal mendengarkan cerita orang lain selagi bisa. Tidak selamanya apa yang tertera di buku akan berlaku sama persis di dunia nyata. Ada beberapa faktor kecil yang mungkin tidak akan diduga, dan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sudah berpengalaman. Kalau ayah dan bunda sudah tergabung dalam komunitas persiapan anak, alangkah bagusnya, jangan sia-siakan dan tanyakan apa saja.

Kadang tidak semua orang nyaman bicara dengan orang asing. Berbagi keluh kesah pada orang tak dikenal bukanlah sesuatu yang mudah. Tenang saja, selalu ada keluarga yang siap membantu. Masih ragu juga? Orang tua bisa menjadi alternatif utama ketika harus ‘belajar’ mengenai persalinan. Bahkan, sangat diperbolehkan berbagi pengalaman dengan mereka yang dianggap keluarga tanpa ikatan darah.

Orang tua yang sudah punya anak sebelumnya, tidak perlu lagi mencari pengalaman atau kesulitan bahan diskusi. Bukan berarti, ayah bunda cukup santai dan berleha-leha, apalagi kalau baru anak kedua. Kini ada satu orang yang jadi bahan pikiran ayah dan bunda, siapa lagi kalau anak yang lebih tua.

Bukan rahasia lagi, kalau anak yang lebih dulu lahir tidak menyukai kehadiran sosok adik dalam hidupnya. Amarah akibat cemburu sangat mungkin nampak, apalagi bila anak masih berusia muda, kurang lebih 5 tahun. Persiapan dari orang tua bisa jadi kalah penting dibanding kegiatan untuk meyakinkan anak bahwa ‘adik bayi’ bukan penganggu namun penambah kebahagiaan.

Media boneka banyak digunakan dalam simulasi. Tidak ada salahnya ayah dan bunda kerap bermain boneka bayi dengan anak untuk membiasakan dirinya. Apapun caranya, yang penting anak tidak lagi khawatir dengan adanya bayi baru lahir nantinya. (HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *