Poin Perkembangan Sosial Anak Usia Enam Hingga Dua Belas Tahun

mengatasi anak pemalu

Source: My Little Muffin

Perkembangan sosial anak adalah suatu yang dinamis dan acapkali buat orang tua geleng-geleng kepala. Adanya perubahan sikap drastis dari balita yang lucu nan menggemaskan menjadi sosok dingin atau acuh buat orang tua tidak habis pikir. Padahal, kalau dipikir kembali buah hati ayah bunda bukan kasus khusus.

Usia enam sampai dua belas tahun merupakan masa menjelang ‘pancaroba’ dimana secara sosial, pembawaan diri kelak akan terbentuk. Marah-marah tidak akan mengubah keadaan. Orang tua tidak bisa membantu banyak selain memahami kondisi sosial buah hati.

Usia enam sampai Sembilan tahun

  1. Independensi galau

Aneh tapi nyata, menginjak usia enam tahun, si kecil umumnya tidak akan berminat menghabiskan waktu dengan orang tua. Baginya, sudah tiba momen untuk mandiri. Jangan heran bila si kecil ingin membawa tas, atau duduk sendiri tanpa dibantu. Kendati demikian, setiap kali dirinya jatuh dan butuh bantuan, nama orang tua yang pertama kali diteriakkan.

  1. Ikatan tidak penting
    Bermain bersama seolah hal yang mudah bagi anak-anak. Di sekolah dasar, belum ada konsep siapa sahabat dan teman dekat. Semua orang di mata si kecil adalah teman selama mau bermain bersama. Lucunya, setiap kali ada kejadian tidak menyenangkan anak-anak cenderung terus terang, dan sangat gampang baginya memutuskan hubungan.
  2. Sensitif tinggi
    Hati anak terbentuk di usia enam tahun, dimana koordinasi kognitif dan afektif masih dalam masa pelatihan. Anak belum memahami yang namanya sarkasme, atau tusuk menusuk dalam konteks sosial, tetapi dirinya mampu merasakan aura menghina. Ekstra hati-hati dalam bertutur kata di hadapan si kecil sangat direkomendasikan. Perasaan buah hati ayah bunda kini mudah terluka, dan gampang marah.
  3. Pembuktian diri
    Ego manusia merupakan penyebab kenapa hadiah dan penghargaan begitu diincar. Harapan untuk selalu peroleh pengakuan adalah sifat dasar manusia. Ternyata, keinginan untuk membuktikkan dirinya terhebat dimulai di usianya yang sangat dini. Jangan heran bila si kecil semangat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang melibatkan perlombaan.
  4. Mulai sadar diri

Tiap kemenangan selalu ada kekalahan, keduanya seperti butiran di atas benang, tidak terpisahkan. Meskipun semua anak ingin buktikkan dirinya nomor satu, bukan berarti kemungkinan kalah tertutup rapat. Jangan takut bila anak tidak berhasil meraih juara, perlahan tapi pasti dirinya berusaha menerima kemenangan orang lain. Bahkan, di masa mendatang dirinya akan berkembang jauh lebih pesat dari kekalahan.

  1. Cerdik
    Aturan dibuat untuk membuat hidup lebih teratur dan aman. Anak usia enam sampai Sembilan tahun seharusnya mulai paham konsep salah dan benar. Sayangnya, bibit pemberontak mulai muncul dalam dirinya. Walaupun si kecil seolah mendengarkan dan menuruti aturan yang ditetapkan, tidak menutup kemungkinan tersusun rencana rahasia guna menemukan celah dari setiap peraturan.

Usia sepuluh sampai dua belas tahun

  1. Harga diri terusik
    Pembuktian diri merupakan satu-satunya jalan untuk selamat dalam pergaulan. Tidak perlu bengong karena heran bila anak umur dua belas tahun, baik perempuan atau laki-laki menentang arus hanya demi panjat sosial. Apalagi, sifat pemberontak akan muncul akibat adrenalin yang mengalir deras. Jauhkan kata ‘jangan’ yang hanya menantang dirinya untuk melanggar.
  2. Cinta monyet pertama

Kasih sayang lawan jenis merupakan topik paling populer di beragam literasi, atau sekedar perbincangan ringan. Tidak hanya di adegan film atau novel, serunya kisah cinta seseorang ternyata dimulai di usia yang sangat belia sekalipun. Istilah cinta monyet atau taksir menaksir pada tingkatan rendah sampai tercipta untuk menggambarkan fenomena satu ini.

Masa pubertas sudah semakin dekat, dimana insting manusia untuk mencari pasangan sudah mulai bangkit. Tenang saja, selama tidak ada doktrin aneh dari media eksternal, kisah cinta si kecil mungkin sebatas memandang malu-malu. Harap diingat, jangan buru-buru melarang anak berjumpa dengan lawan jenis apalagi kalau telanjur naksir, karena hal tak diinginkan lebih mungkin terjadi dari kata ‘tidak boleh’.

  1. Menjauh dari orang tua
    Dua belas tahun terbilang usia tanggung dimana secara fisik anak sudah mulai mampu mandiri namun secara psikis belum. Kendati demikian, terdapat aturan tidak tertulis di kalangan anak remaja untuk menolak terlihat manja. Bagi mereka, semakin jauh dari orang tua, maka semakin keren. Jangan salah, sebesar apapun dirinya tumbuh, di lubuk hatinya tersimpan rasa cinta terhadap ayah ibunda.
  2. Ikatan mendalam
    Hubungan dengan orang sebaya dibagi menjadi lima tingkat: kenalan, teman, teman dekat, sahabat, sampai dengan keluarga ‘non biologis’. Nah, di usia tanggung seperti sepuluh tahun, anak mulai paham konsep ikatan yang lebih dalam. Saat yang paling tepat untuk mengenali karakter anak kedepan bisa dilihat dari caranya memilih tipe teman.
  3. Takut dengan perubahan tubuh
    Pubertas adalah masa yang cukup menakutkan. Tidak hanya secara psikis, namun secara fisik pula. Orang dewasa mungkin sudah terbiasa melihat rambut-rambut tak diundang tumbuh di beberapa bagian tubuh, atau perubahan suara. Namun, bagi anak yang tidak tahu apapun hal ini akan sangat menakutkan.
    Secara sosial, manusia kurang mampu menerima orang yang terlihat berbeda dengan dirinya. Bedanya tentu saja, bagaimana seseorang mengendalikan perasaan tersebut. Edukasi mengenai pubertas belum tentu berhasil mengatasi tekanan dari teman sebayanya, apalagi bila perubahan tubuh terlihat jelas. Jaga komunikasi dengan si kecil agar meminimalisir gangguan perkembangan sosial anak.(HN)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *