Sinyal Buruk Terkait Dengan Perkembangan Bahasa Anak

perkembangan bahasa anak

friso.co.id

Bukan berarti anak terlambat bicara berarti ia mengalami masalah dengan kemampuan berbahasa. Perkembangan bahasa anak tidak ditentukan seberapa cepat anak bisa berbicara. Ini harus menjadi satu catatan penting untuk para orang tua seperti ibu. Pasalnya, banyak orang tua yang terlalu khawatir dan akhirnya berpikiran negatif ketika anak terlambat bicara. Mereka khawatir anak bisu dan hal-hal negatif lainnya.

Agar membuat ibu lebih mengerti mengenai tahap perkembangan kemampuan berbahasa anak, sebaiknya ibu ketahui apa saja yang menjadi sinyal buruk terkait dengan kemampuan berbahasa anak.

Sinyal Buruk Terlihat Ketika Masih Bayi

Kapan anak mulai belajar bicara? Secara umum, anak sudah mulai mengucap satu dua patah kata ketika usianya menginjak 1,5 tahun. Hal inilah yang lantas membuat banyak orang membuat kesimpulan tanda-tanda perkembangan berbahasa anak baru bisa dilihat ketika usianya di atas 1 tahun. Dan tanda-tanda adanya masalah gangguan bahasa juga baru bisa diketahui ketika usianya mencapai 1 tahun ke atas.

Ternyata tidak demikian. Tanda-tanda buruk mengenai kemampuan berbahasa anak sudah bisa dilihat ketika ia masih bayi lho. Ibu bisa melakukan deteksi sendiri. Ibu perhatikan saja bagaimana jika ibu mencoba mengajak anak berkomunikasi atau bercanda. Jika tidak ada respon, maka ada kemungkinan bayi ibu mengalami masalah dalam berbahasa.

Bayi yang memiliki perkembangan bahasa yang baik biasanya akan memberikan respon seperti jeritan, senyuman, tawa, dan lain sebagainya. Sementara itu, jika bayi ibu tidak memberikan respon, sebaiknya ibu segera konsultasikan dengan pakar perkembangan bayi atau konsultasikan secara online di situs Friso Indonesia

Kemampuan Pendengaran Mempengaruhi Perkembangan Berbahasa

Orang yang tuli sejak dari lahir sudah bisa dipastikan pasti bisu. Itulah mengapa perkembangan bahasa balita dipengaruhi oleh bagaimana kemampuan pendengar sang buah hati.

Oleh sebab itu, sinyal buruk mengenai kemampuan berbahasa anak bisa dilihat dari bagaimana kemampuan mendengar. Jika sampai usia 1,5 tahun, 2 tahun, dan bahkan 3 tahun anak ibu belum bisa berbicara, ibu tidak perlu khawatir selama anak ibu bisa merespon apa yang ibu katakan. Ketika ibu memanggi, anak ibu menoleh dan memberikan respon. Jika ibu bercanda, anak ibu tertawa. Itu artinya tidak ada masalah dengan kemampuan pendengaran anak. Dan itu juga berarti ibu tidak perlu mengkhawatirkan dengan kemampuan berbahasa anak. Ia tidak bisu.

Lain hal jika anak ibu sering melamun, tidak memberikan respon apapun ketika dipanggih, diajak komunikasi, atau sedang menonton TV. Ada kemungkinan anak ibu tuli dan mungkin juga anak ibu tidak bisa bicara alias bisu.

Menghindari Masalah Gangguan Bicara Anak

Orang tua manapun pasti ingin melihat perkembangan anak baik dan normal. Ada orang tua yang tidak perlu melakukan banyak hal untuk sang buah hati mereka. Namun, ada juga orang tua yang memberikan perhatian khusus untuk memastikan tidak ada masalah dengan perkembangan sang buah hati mereka, terutama perkembangan bicara anak.

Langkah antisipasi terhadap hal buruk sudah sepatutnya ibu lakukan. Lalu, apa yang harus ibu lakukan agar si kecil terhindar dari gangguan bicara?

  • Nutrisi Terpenuhi

Sepertinya masalah yang satu ini tidak perlu ibu khawatirkan lagi jika ibu selama ini sudah memberikan menu makanan yang variatif dan bergizi. Apalagi jika ibu sudah memberikan susu balita terbaik. Maka sudah bisa dipastikan kebutuhan nutrisi harian sang buah hati terpenuhi.

Nutrisi yang tepat dan cukup akan membuat perkembangan otak baik. Pasalnya, perkembangan otak inilah yang sangat penting untuk tahap belajar bicara anak tanpa meniadakan pentingnya perkembangan fisik terutama mulut. Yang pasti, nutrisi untuk perkembangan otak sangat diperlukan.

  • Memberikan Stimulus

Kapan sebaiknya ibu mengajarkan si kecil bicara? Pada dasarnya, ketika bayi masih ada di dalam rahim, itulah saat awal ibu seharusnya memberikan stimulus. Tentu saja bukan stimulus belajar bicara, tapi stimulus untuk menjaga perkembangan indera pendengarannya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, indera pendengaran berpengaruh terhadap kemampuan bicara anak.

Stimulus seharusnya lebih intens ketika sang buah hati lahir ke dunia. Ketika masih bayi, seringlah ibu mengajak berkomunikasi, bersendau gurau, dan membacakan cerita meskipun ibu tidak akan mendapatkan respon berupa bahasa verbal. Namun sekali lagi, stimulus seperti itu akan membuat si kecil terhindar dari masalah pendengaran mengingat indera pendengarannya selalu ditingkatkan.

Kemudian ketika usianya menginjak balita, baru ibu bisa mengajak berbicara dengan harapan stimulus tersebut bisa membuat anak ibu mampu meniru apa yang ibu katakan. Pada intinya, perkembangan berbicara anak itu diawali dari pendengaran. Ia mendengar, merekam, dan meniru untuk mengatakan seperti apa yang ia dengarkan. Itulah proses belajar bicara anak.

  • Jangan Biarkan Si Kecil Terlalu Lama Di Depan TV

Ada perbedaan pendapat. Ada yang bilang mendengarkan siaran TV bisa membuat anak lebih mudah bicara. Akan tetapi, ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Mereka yang tidak setuju mengatakan bawasannya siaran TV tidak membuat anak interaktif. Lain jika ibu mengajak anak untuk bicara. Ada potensi interaksi sehingga anak bisa menjawab atau merespon kalimat yang ibu utarakan.

Jadi, menonton TV boleh saja asalkan porsinya jangan sampai lebih banyak daripada berkomunikasi dengan ibu. Interaksi verbal yang terus menerus jelas akan lebih membuat anak mudah untuk bisa berbicara layaknya orang dewasa.

Jadi, apakah ibu sudah mengerti apa yang harus ibu lakukan untuk memaksimalkan perkembangan bahasa anak?

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *