Umur Berapa Bayi Bisa Merangkak?

umur berapa bayi bisa merangkak

Source: Integrated Learning Strategies

Pertumbuhan bayi memang bisa menimbulkan rasa tegang dan senang bersamaan. Senang mengetahui orang tua telah berhasil membesarkan bayi dan tegang karena takut ada salah langkah yang merusak pertumbuhan bayi. Salah satu tahap perkembangan bayi adalah merangkak, menjadikan pencarian umur berapa bayi bisa merangkak di situs pencarian cukup tinggi.

Merangkak, suatu kegiatan yang biasa dilakukan orang dewasa di kala menghindari tembakan pada situasi perang atau tidak mampu mempergunakan kakinya. Pada masa kecil, merangkak bukan pilihan melainkan memang permulaan gerak bayi dari ruang ke ruang berasal dari modal merangkak. Tersembunyi manfaat merangkak bagi bayi yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut.

Seiring bertambah besarnya bayi, tentu otot dan tulang semakin kokoh. Perbedaan otot dan tulang ada pada fungsinya. Otot bekerja sebagi penggerak tubuh sedangkan tulang sebagai penopang dan fleksibilitas. Pada usia 7 bulan keatas, umumnya otot dan tulang lebih matang sehingga mampu dibawa kerja berat seperti merangkak. Tanda bayi sudah siap belajar dilihat dari bagaimana kemampuan bayi mengangkat kepala.

Kepala manusia memiliki berat yang lumayan dan hanya ditopang pada 1 pilar saja yakni leher. Orang dewasa mungkin tidak merasa sulitnya mengangkat kepala karena pemusatan tenaga pada area tubuh sudah lebih baik, lain ceritanya dengan bayi. Bayi tidak memiliki tenaga besar sehingga mengangkat kepala saja terasa mirip latihan beban di gym. Leher yang sudah mampu mengangkat kepala berarti siap mengerahkan tenaga pada anggota tubuh lain khususnya tangan dan kaki.

Tidak semua orang memiliki perkembangan yang sama. Beberapa bayi bisa saja mulai belajar merangkak di usia 7 bulan kebawah, bahkan empat bulan. Orang tua juga bisa mendapati bayi terlambat belajar merangkak, mungkin di usia ke 9 bulan bulan bayi masih saja duduk diam. Kendati demikian, beberapa bayi memang tidak tertarik belajar merangkak dan langsung berlenggang jalan dengan kedua kaki. Intinya, orang tua tidak perlu khawatir berlebihan mengenai faktor merangkak.

Beruntunglah bayi yang melalui fase merangkak sebelum berjalan. Peningkatan kemampuan bisa diperoleh bayi yang merangkak. Sama dengan belajar menyetir mobil atau motor, langkah pertama belajar menaiki motor tersebut sebelum berkendara bebas. Apa saja manfaatnya ?

1. Keseimbangan

Mengangkat badan tidak mudah bagi bayi. Merangkak sebenarnya mirip dengan naik sepeda roda empat. Sekilas terlihat mudah tapi bagi amatir sangatlah sulit. Keseimbangan yang menjadi dasar berjalan dilatih pada fase merangkak. Orang tua tidak perlu membantu bila bayi menjatuhkan diri ketika merangkak, cukup sediakan lapak empuk daripada memanjakan si kecil yang sedang berusaha mengembangkan diri sendiri dengan merangkak ke depan.

2. Olah koordinasi mata dan tubuh

Sama dengan berjalan, mata dan tubuh dikontrol otak secara bersamaan. Mata menangkap bayangan dari cahaya, dalam se-persekian mikro detik mengirim gambar pada otak, yang nanti di ‘umumkan’ pada bagian kinestetik agar bergerak. Gerakan berbelok yang hanya makan waktu beberapa detik saja butuh perjuangan yang besar bagi tubuh.

Kantor yang besar dengan ribuan order dan karyawan sudah pasti pusing melihatnya, begitu pula tubuh. Setiap menit, detik, ada perintah baru dari otak yang menuntut tubuh terus bekerja. Nah, kalau sudah begini pasti ingin, ‘kan, melatih koordinasi area tubuh yang berbeda secara simultan (berbarengan dalam 1 waktu).

3. Mengenggam

Sebagai orang dewasa, kemampuan mengenggam bolpoin, meninju, meraih barang, atau berpose dengan tangan seolah tak lagi spesial. Hanya orang yang terserang (maaf) stroke, paralisis, atau bayi saja yang bisa menghargai kemampuan yang digunakan sehari – hari tersebut. Sama dengan melihat, gerakan mengenggam tangan sebenarnya membutuhkan kerja sama otot dan tulang.

Dalam merangkak, terdapat gerakan – gerakan kecil yang membuat hubungan otot dan tulang semakin intim. Tangan mau tidak mau berdiri dan menekuk sedikit sesuai dengan beban bayi. Tidak ada yang bisa mengajari bagaimana merangkak dengan baik, bayi harus mampu berkomunikasi dengan tubuh supaya menemukan gerakan merangkak paling nyaman bagi si kecil.

4. Spasial

Kecuali seseorang sedang jatuh hati dunia harus berbagi. Ya, dengan kepadatan penduduk dunia, maka semakin sempit bagian ruang bagi manusia. Terbatasnya tempat menuntut kreativitas manusia dalam menata dan menemukan celah penempatan barang sesuai dengan kemampuan. Lajur jalan dan gerak harus diperhitungan dengan cermat supaya tidak menganggu ruang milik orang lain entah sadar atau tidak.

Bayi terlahir begitu kecil, sehingga porsi ruang yang tidak seberapa terasa seperti seluruh dunia baginya. Gerak bebas si kecil bukan menjadi halangan di usia belia, tapi akan menjadi masalah seiring pertambahan usianya. Tujuan bayi merangkak terlebih dahulu salah satunya mengajarkan konsep ruang pada bayi.Kembali pada analogi belajar berkendara. Bayi yang berjalan seperti menaiki motor, ruang gerak cukup luas dan lebih fleksibel. Bayi yang merangkak terlebih dahulu berarti belajar naik mobil. Badan lebih lebar dibanding motor menjadikan ruang gerak mobil kurang fleksibel dan sempit. Bisa dibayangkan, bahwa belajar naik mobil lebih sulit dari naik motor namun melatih pengertian ruang dengan lebih baik.

5. Pengukuran strategis

Bayi yang mulai mampu merangkak biasanya ingin meraih barang – barang yang ada dalam jangkaun mata. Si kecil harus memperhitungkan secara matang jarak dan koordinasi yang diambil. Umur berapa bayi bisa merangkak bukan lagi hal utama melainkan bayi harus mendapat manfaat merangkak terlebih dulu.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *